Singapura menjadi salah satu tujuan utama karena dianggap memiliki regulasi yang lebih fleksibel serta iklim investasi yang lebih kompetitif.
Kondisi tersebut terjadi ketika Indonesia sebenarnya memiliki kebutuhan besar terhadap pendanaan alternatif.
Data dalam kajian menunjukkan UMKM menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan sekitar 97 persen lapangan kerja.
Namun hanya sekitar 30 persen UMKM yang memiliki akses terhadap pembiayaan formal.
Di sisi lain, modal ventura memiliki keunggulan karena tidak mengutamakan agunan seperti perbankan.
Investor modal ventura cenderung menilai potensi pertumbuhan bisnis, inovasi, dan prospek jangka panjang perusahaan yang didanai.
Karena itu, keberadaan industri modal ventura yang kuat dinilai penting untuk mendorong lahirnya startup dan usaha baru di Indonesia.
CELIOS juga menyoroti bahwa sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara telah lebih agresif memberikan dukungan kepada industri modal ventura melalui berbagai insentif fiskal dan kebijakan yang ramah investor.
Kondisi ini membuat persaingan dalam menarik investasi semakin ketat.




