ARUSBAWAH.CO - Laba tiga badan usaha milik daerah (BUMD) Kota Samarinda tembus Rp66 miliar pada tahun buku 2025.
Meski demikian, besaran laba yang akan disetorkan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih menunggu keputusan Wali Kota Samarinda selaku Kuasa Pemilik Modal (KPM).
Kepala Bagian Ekonomi Setda Kota Samarinda, Nadya Turisna, mengungkapkan berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit Kantor Akuntan Publik (KAP), Perumdam Tirta Kencana menjadi penyumbang laba terbesar dengan nilai sekitar Rp53,678 miliar.
Sementara itu, Perumda Varia Niaga mencatat laba sekitar Rp10,123 miliar dan PT BPR atau Bank Samarinda memperoleh laba sekitar Rp2,742 miliar.
“Kalau dari laporan keuangan yang sudah diaudit KAP, Perumdam sekitar Rp53,678 miliar, Varia Niaga sekitar Rp10,123 miliar, dan BPR sekitar Rp2,742 miliar,” ujar Nadya kepada Arusbawah.co, Selasa (2/6/2026).
Namun, Nadya menegaskan laba tersebut belum otomatis disetorkan ke kas daerah.
Pemerintah Kota Samarinda masih harus melakukan pembahasan bersama KPM setelah seluruh proses audit selesai dilakukan.
“Sekarang masih proses penjadwalan rapat. Karena baru selesai audit KAP, setelah itu masih ada audit kinerja. Hasil audit-audit itu nanti kami sampaikan kepada Pak Wali,” jelasnya.
Setoran PAD Pertimbangkan Kondisi Keuangan Perusahaan
Menurut Nadya, keputusan mengenai berapa besar laba yang akan disetorkan ke PAD tidak hanya melihat nominal keuntungan yang diperoleh perusahaan.
Pemerintah juga mempertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing BUMD, termasuk keberadaan utang masa lalu yang masih harus diselesaikan.
Secara umum, Nadya menilai kinerja tiga BUMD Kota Samarinda menunjukkan tren yang semakin positif dari tahun ke tahun.
Ia menyebut laporan keuangan maupun rasio kesehatan perusahaan saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.
“Kalau dilihat dari laporan keuangan dan rasio-rasio, hasilnya sudah bagus,” ujarnya.
Nadya mencontohkan Perumdam Tirta Kencana yang saat ini sudah tidak memiliki beban utang masa lalu sehingga kondisi keuangannya relatif lebih sehat.
Berbeda dengan Varia Niaga dan BPR yang masih harus menyelesaikan sejumlah kewajiban lama.
“Kalau Perumdam sudah clear. Tapi kalau Varia Niaga dan BPR masih ada kewajiban yang harus diselesaikan,” ujarnya.
Karena itu, sebagian laba yang diperoleh perusahaan masih dapat dialokasikan untuk memperbaiki kondisi keuangan internal sebelum disetorkan ke pemerintah daerah.
“Jangan sampai semua disetor ke PAD, tapi akhirnya perusahaan kembali terseok-seok dan tidak sehat,” tegasnya.
Bank Samarinda Pecah Telur Setelah Dua Dekade
Secara umum, Nadya menilai performa ketiga BUMD milik Pemkot Samarinda menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, salah satu capaian yang cukup menonjol terjadi pada BPR Samarinda yang akhirnya berhasil membukukan laba setelah hampir dua dekade berkutat dengan berbagai persoalan keuangan.
“Kalau BPR itu hampir dua dekade baru bisa mencetak laba. Memang masih ada penyelesaian utang masa lalu, tetapi sekarang sudah menghasilkan keuntungan dan kondisi kesehatannya juga membaik,” ungkapnya.
Meski nominalnya paling kecil dibanding dua BUMD lainnya, capaian tersebut dianggap sebagai pencapaian penting karena menjadi laba pertama setelah hampir dua dekade perusahaan bergelut dengan persoalan keuangan.
Meski demikian, BPR masih harus menyelesaikan sejumlah kewajiban lama sehingga sebagian laba yang diperoleh berpotensi digunakan untuk memperkuat kondisi internal perusahaan.
“Yang masih ada hutang berarti Varia Niaga dan BPR. Jadi labanya juga dibagi untuk mengembalikan hutang, untuk tetap setor ke PAD,” kata Nadya.
Varia Niaga Berkembang dari Tiga Menjadi Delapan Unit Usaha
Khusus untuk Perumda Varia Niaga, Nadya menyebut perusahaan tersebut mengalami perkembangan cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Jika sebelumnya hanya memiliki tiga unit usaha, kini jumlahnya telah bertambah menjadi delapan unit usaha.
Menariknya, seluruh unit usaha tersebut mampu menghasilkan keuntungan meskipun dengan nominal yang berbeda-beda.
“Dulu Varia Niaga hanya punya tiga usaha. Sekarang sudah delapan dan alhamdulillah semuanya menghasilkan laba, walaupun ada yang masih kecil,” ujarnya.
Menurut Nadya, pencapaian tersebut tidak lepas dari kebijakan efisiensi yang terus ditekankan Wali Kota Samarinda kepada seluruh BUMD.
Mulai dari pengendalian belanja pegawai, efisiensi biaya operasional hingga pengurangan pengeluaran yang dianggap tidak terlalu penting.
“Pak Wali selalu menekankan agar operasional dijalankan seefisien mungkin. Belanja pegawai jangan terlalu besar dan kegiatan-kegiatan yang tidak penting dikurangi,” katanya.
Teras Samarinda dan Bebaya Mart Dongkrak Kinerja Varia Niaga
Nadya juga mengakui sejumlah unit usaha baru mulai memberikan kontribusi terhadap peningkatan kinerja Varia Niaga.
Salah satunya adalah pengelolaan kawasan Teras Samarinda yang kini menjadi salah satu sumber pendapatan perusahaan daerah tersebut.
Selain itu, terdapat pula Bebaya Mart yang dikembangkan bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan, melainkan sebagai instrumen pengendalian inflasi daerah.
Konsep Bebaya Mart berfokus menyediakan kebutuhan pokok dengan harga sesuai ketentuan pemerintah.
“Di sana ada telur, beras SPHP, LPG 3 kilogram dan kebutuhan pokok lainnya sesuai harga eceran tertinggi. Jadi tidak mengambil keuntungan dari komoditas tersebut,” jelasnya.
Ke depan, Pemkot Samarinda juga berharap pengembangan Bebaya Kos Syariah dapat semakin memperkuat kontribusi Varia Niaga terhadap perekonomian daerah.
Perumdam Turun Laba karena Investasi Infrastruktur
Sementara itu, laba Perumdam Tirta Kencana pada tahun 2025 tercatat sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya.
Namun penurunan tersebut dinilai bukan disebabkan menurunnya kinerja perusahaan, melainkan karena adanya sejumlah investasi pembangunan infrastruktur yang masih dalam tahap pengembangan.
“Pada 2025 banyak pembangunan IPAL. Jadi ada biaya yang keluar ke sana dan manfaat ekonominya belum sepenuhnya kembali,” kata Nadya.
Ia optimistis investasi tersebut akan memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan pada tahun-tahun mendatang setelah seluruh fasilitas mulai beroperasi secara maksimal.
Pemkot Fokus Benahi Warisan Masalah Lama
Lebih jauh, Nadya menegaskan salah satu fokus utama Wali Kota Samarinda saat ini adalah memperbaiki kondisi keuangan perusahaan daerah secara berkelanjutan.
Menurutnya, pemerintah tidak ingin meninggalkan persoalan lama kepada pengelola berikutnya.
Sebagai contoh, utang Varia Niaga yang sebelumnya mencapai sekitar Rp35 miliar kini telah berhasil ditekan menjadi sekitar Rp24 miliar.
“Dulu utangnya sekitar Rp35 miliar, sekarang sudah turun menjadi sekitar Rp24 miliar. Jadi setiap ada laba juga digunakan untuk mengurangi kewajiban tersebut sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara peningkatan kontribusi PAD dan kesehatan keuangan perusahaan.
“Yang penting perusahaan tetap sehat, masalah-masalah lama berkurang, dan kinerja terus meningkat,” pungkasnya.
(raf)
- Pasar Segiri Terbakar Lagi, Andi Harun Mau Bangunan Semi Permanen Segera Dibangun
- Kontrak BOT 51 Miliar Mal Lembuswana Berakhir 26 Juli 2026, Seno Aji Siapkan Beauty Contest Melalui Perusda
- 3 Ribu Sumur Migas Tua di Kaltim Akan Dihidupkan Lagi, Ini Cara Mekanisme Pengajuan Pengelolaan! UMKM - BUMD Bisa Jadi Mitra




