Arus Daerah

Kumpulan Mitos dari Kalimantan Barat, Ada Kisah di Balik Berdirinya Kota Pontianak

Ada Kisah Kaitan Kuntilanak di Balik Berdirinya Kota Pontianak

Jumat, 3 Oktober 2025 18:49

MITOS - Potret Keraton Kadriyah Kesultanan Pontianak dan Pantai Tanjung Baja di Kalimantan Barat, Simak Mitos dari Daerah Ini (Foto: IST)

Bagi sebagian orang di luar Kalimantan, menolak makanan atau minuman yang ditawarkan mungkin dianggap hal biasa tanpa konsekuensi apa pun.

Namun, bagi masyarakat Kalimantan, terutama di Kalimantan Barat, ceritanya berbeda.

Ada kepercayaan yang cukup kuat bahwa menolak hidangan bisa membawa dampak buruk, mulai dari terjatuh, tertabrak, hingga mengalami kecelakaan.

Inilah yang dikenal dengan istilah kemponan.

Untuk menghindari kemponan, masyarakat biasanya akan tetap "menjamah" makanan atau minuman yang ditawarkan.

Caranya unik, cukup dengan menyentuh atau mencelupkan jari ke dalam sajian tersebut, tanpa harus benar-benar memakannya.

Menurut sejumlah kajian, kebiasaan ini tidak lepas dari keterkaitan antara budaya, mitos, dan pola pikir masyarakat.

Penelitian Shah dan Wahid (2010) dalam jurnal Muhammad Asyura menyebutkan bahwa mitos yang terus diwariskan bisa berubah menjadi idealisme kolektif.

Hal inilah yang membentuk cara pandang serta perilaku masyarakat hingga sekarang.

Keyakinan tersebutlah yang membuat masyarakat Kalimantan Barat masih memegang teguh tradisi tentang kemponan.

3. Minum “Aek Kapuas”

Mitos ini dianggap cukup sakral.

Konon, siapa pun yang datang dari luar Kalimantan lalu tanpa sengaja meminum air Sungai Kapuas, diyakini akan merasa kerasan dan sulit meninggalkan Kalimantan Barat.

Bahkan, disebut-sebut ingin menetap di sana untuk waktu lama.

4. Hantu Laot (Puake) di Sungai Kapuas

Mitos berikutnya yang tak kalah menarik adalah kisah tentang “hantu laut” yang oleh warga Pontianak dikenal dengan sebutan Puake.

Sosok gaib ini digambarkan menyerupai naga raksasa yang mendiami perairan.

Menurut cerita turun-temurun, kemunculan Puake pertama kali terjadi sekitar tahun 1994 di Pontianak.

Kala itu, makhluk ini dipercaya menyeret beberapa anak dengan gelombang besar karena mereka dianggap bersikap tidak sopan saat berenang di laut.

Untuk menangkal kemunculan Puake, masyarakat setempat rutin menggelar ritual tahunan.

Berbagai sesaji seperti buah-buahan, minyak, telur ayam kampung, nasi kuning, paku, hingga bedak dipersembahkan.

Bahkan, di beberapa daerah ada tradisi melepas seekor ayam hidup ke laut sebagai simbol penolak bala.

Tag

MORE