ARUSBAWAH.CO - Salah seorang korban dugaan kekerasan seksual yang diduga dilakukan seorang pengajar sekaligus pimpinan salah satu pondok pesantren di Samarinda mengaku pernah melarikan diri dari pondok bersama seorang rekannya sekitar pukul 03.00 dini hari.
Perempuan yang enggan disebutkan namanya itu mengatakan, keputusan tersebut diambil karena merasa tidak lagi sanggup bertahan setelah mengalami dugaan peristiwa yang kini dilaporkannya ke Polresta Samarinda.
Ia bahkan sempat kembali ke pondok setelah diyakinkan bahwa situasi akan aman.
Namun, menurut pengakuannya, dugaan peristiwa serupa kembali terjadi hingga akhirnya ia memutuskan berhenti.
Mengaku Pernah Kabur Pukul Tiga Dini Hari
Korban mengatakan, keputusan meninggalkan pondok bukan diambil secara tiba-tiba.
Menurutnya, saat itu dirinya sudah berada di titik tidak sanggup lagi bertahan.
"Karena udah di titik ujung, akhirnya memutuskan untuk kabur," ujarnya kepada ARUSBAWAH.CO, Kamis (16/7/2026).
Korban mengaku keluar dari pondok sekitar pukul 03.00 dini hari bersama seorang teman.
"Jam tiga malam."
Saat ditanya apakah dirinya ikut melarikan diri dari pondok, korban mengaku kabur bersama satu orang temannya.
"Saya. Sama satu teman," jawabnya.
Doktrin di Pondok Membuat Korban Memilih Diam
Korban mengaku, saat dugaan peristiwa itu terjadi, dirinya sebenarnya menyadari ada sesuatu yang tidak wajar.
Namun, ia memilih memendam apa yang dialaminya karena merasa tidak memiliki kuasa untuk menolak maupun bercerita.
"Ada, pasti ada. Cuma jadinya itu kayak menumpuk di pikiran. Kami enggak bisa mengeluarkannya," tuturnya.
Menurut korban, posisi terlapor sebagai pimpinan pondok membuat para santri merasa tidak memiliki kuasa.
"Karena kami merasa lagi di dalam pondok, pelakunya itu ketua pondok. Jadi kami enggak punya kuasa. Malah dia yang punya kuasa karena dia yang punya pondok, jadi dia yang ngatur," ucap korban.
Korban mengatakan, dirinya sesekali hanya bercerita kepada teman.
Namun, ia juga tidak ingin membebani teman-temannya yang sama-sama sedang menempuh pendidikan.
"Kami juga mikir teman di sini tujuannya belajar, jadi enggak mau memperberat mereka dengan masalah kami. Akhirnya semua lebih dipendam sendiri," ucapnya.
Menurut korban, doktrin yang diterima selama berada di pondok juga membuat para santri sulit mempertanyakan apa yang mereka alami.
Tag



