Arus Publik

Korban Dugaan Kekerasan Seksual Ponpes di Samarinda Mengaku Pernah Kabur, Sempat Kembali karena Dijanjikan Aman

ILUSTRASI - Ilustrasi/ IST

"Guru itu selalu dianggap suci. Kita harus selalu mendapat berkahnya beliau. Padahal kalau mungkar (durhaka) ya memang mungkar," tuturnya sembari menghela napas.

Korban mengaku, lingkungan pondok saat itu juga tidak memberinya keyakinan bahwa ia akan mendapat perlindungan apabila bercerita.

"Kalau sudah terjadi baru mereka bilang, 'Kenapa enggak dari kemarin cerita?' Padahal waktu itu kami benar-benar enggak bisa ngapa-ngapain."

Ia juga melihat santri yang memilih keluar dari pondok justru menjadi bahan pembicaraan.

"Kalau ada teman yang kabur, bukannya dibangkitkan semangatnya, malah dibicarakan, disindir-sindir," imbuhnya.

Kondisi tersebut membuat korban merasa tidak memiliki tempat yang aman untuk menyampaikan apa yang dialaminya.

"Dari situ kami berkaca kalau kami enggak bisa mengharapkan mereka," keluhnya.

Korban Mengaku Diperkenalkan dengan "Nikah Batin"

Korban mengaku, dugaan peristiwa yang dialaminya bermula ketika dirinya diminta memijat terlapor.

Menurutnya, permintaan tersebut awalnya dianggap sebagai hal yang biasa dilakukan santri kepada guru.

"Awalnya kami diminta pijat. Hampir semua korban itu awal mulanya diminta, 'Tolong dong pijitin,'" ujarnya.

Korban mengatakan, seiring berjalannya waktu, dugaan peristiwa itu kemudian berkembang.

Menurut pengakuannya, terlapor memperkenalkan apa yang disebut sebagai "nikah batin".

"Sampai dia berani melakukan hal tersebut dengan adanya nikah batin," tuturnya.

Korban mengaku, saat itu dirinya dijelaskan bahwa "nikah batin" merupakan pernikahan tanpa wali maupun saksi.

"Jadi cukup dua orang saja salaman atau langsung menyebutkan nama, itu sudah dianggap halal."

Menurut korban, cara tersebut kemudian digunakan terlapor terhadap sejumlah santri.

"Akhirnya dia bermodalkan itu untuk melakukan nikah batin kepada para santri yang akhirnya menjadi korban."

Sempat Kembali ke Pondok karena Dijanjikan Aman

Setelah keluar dari pondok, korban mengaku sempat pulang ke rumah dan meminta arahan kepada salah seorang penasihat pondok mengenai persoalan yang dialaminya.

Namun, menurut pengakuannya, ia justru diminta kembali melanjutkan pendidikan di pondok karena diyakinkan situasi akan aman.

"Katanya, 'Ya sudah masuk aja. Aman aja itu nanti yang diawasin.'"

Tag

MORE