Dalam video itu, Tiyo menyebut menerima intimidasi dari nomor WhatsApp berawalan kode negara Inggris, tak lama setelah unggahan kritiknya ramai diperbincangkan.
Kronologi bermula ketika Tiyo menyuarakan keresahan publik lewat Instagram pribadinya, @tiyoardianto.
Ia menyoroti kasus bunuh diri siswa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kematian bocah yang dikaitkan dengan program MBG.
Menurutnya, program tersebut tak layak lagi disebut sebagai “makanan bergizi gratis”.
Ia bahkan menyebut MBG sebagai wadah korupsi yang tersistematis.
“Mulai sekarang kita sebut MBG sebagai #malingBerkedokGizi!” tulisnya dalam salah satu unggahan.
Tiga hari kemudian, pada 13 Februari, ia kembali mengunggah kritik lanjutan.
“Orang yang peduli pada bangsanya, apapun ekspresinya, tidak boleh dipandang sebagai ancaman. Indonesia itu milik semua, bukan hanya milik penguasa,” tulisnya.
Ia juga menyindir bahwa kritik seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah, bukan dimatikan agar bisa “lanjut tidur dan bermimpi tentang Indonesia Emas 2045”.
Dalam unggahan lainnya, Tiyo bahkan melontarkan kritik blak-blakan terhadap kepemimpinan nasional. Tak lama setelah itu, pesan teror masuk melalui WhatsApp dari nomor asing yang menudingnya sebagai “agen asing” dan “cari panggung”.
Hingga kini, desakan agar aparat menelusuri pelaku intimidasi tersebut terus menguat, sementara isu kebebasan akademik kembali menjadi sorotan publik. (pra)
Tag




