Arus Publik

Ketua PUSHAM Unmul: Konten Diskriminatif terhadap Disabilitas Bukan Candaan, Itu Kekerasan Simbolik

Sabtu, 7 Februari 2026 14:46

BICARA DI PODIUM - Ketua PUSHAM-MT, Mustafa/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Pusat Studi Hak Asasi Manusia dan Multikulturalisme Tropis (PUSHAM-MT) Universitas Mulawarman angkat suara.

Ketua PUSHAM-MT, Mustafa, menyampaikan sikap tegas lembaganya menyikapi adanya unggahan video di media sosial yang dinilai merendahkan martabat penyandang disabilitas.

Dalam pernyataan sikap yang disampaikan di Samarinda, 5 Februari 2026, Mustafa menegaskan bahwa konten semacam itu tidak bisa lagi dibungkus dengan dalih hiburan.

“Ini bukan soal selera humor. Ini soal martabat manusia,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima Arusbawah.co

Ruang Digital Tidak Boleh Jadi Tempat Normalisasi Perundungan

Mustafa menjelaskan, unggahan yang mengejek atau mengeksploitasi kondisi disabilitas bukan hanya menyakiti individu yang menjadi objek, tetapi juga berdampak luas pada komunitas disabilitas secara keseluruhan.

“Ketika disabilitas dijadikan bahan lelucon, yang dinormalisasi adalah stigma. Dari situ lahir perundungan, bahkan kekerasan simbolik dan psikologis,” kata Mustafa.

Menurutnya, ruang digital seharusnya tunduk pada prinsip non-diskriminasi sebagaimana ruang publik lainnya.

“Kebebasan berekspresi tidak pernah dimaksudkan untuk merendahkan kelompok rentan,” tegasnya.

 

PUSHAM Desak Pelaku Bertanggung Jawab Secara Moral dan Terbuka

PUSHAM-MT, kata Mustafa, mengecam keras setiap bentuk konten yang menjadikan disabilitas sebagai komoditas demi sensasi, popularitas, atau keuntungan ekonomi.

Ia menekankan bahwa tanggung jawab pelaku tidak cukup hanya dengan menghapus unggahan.

“Pelaku harus berani bertemu korban atau keluarga korban, menyampaikan permintaan maaf secara tulus, dan meminta maaf secara terbuka dengan bahasa yang berperspektif disabilitas,” ujarnya.

Baginya, langkah ini penting untuk memulihkan luka sosial yang ditimbulkan, bukan sekadar menyelesaikan polemik di permukaan.

Platform Digital Diminta Tidak Cuci Tangan

Selain menyoroti pelaku, Mustafa juga mengingatkan peran besar platform media sosial.

“Platform tidak bisa berlindung di balik algoritma,” katanya.

PUSHAM-MT mendesak agar platform melakukan penurunan (takedown) konten diskriminatif secara cepat, menegakkan pedoman komunitas secara konsisten, serta menyediakan mekanisme pelaporan yang benar-benar responsif, terutama untuk kasus yang menyasar kelompok rentan.

Tak kalah penting, lanjut Mustafa, adalah pencegahan unggahan ulang yang kerap memperpanjang penderitaan korban.

Publik Punya Peran: Jangan Ikut Menyebarkan

Di akhir pernyataannya, Mustafa mengajak publik untuk lebih berempati dan bertanggung jawab di ruang digital.

“Setiap klik, setiap share, itu punya dampak. Jangan ikut menyebarkan konten yang merendahkan martabat manusia,” tutupnya.

Bagi PUSHAM-MT, sikap tegas ini bukan sekadar pernyataan moral, melainkan pengingat bahwa kemanusiaan harus tetap menjadi fondasi, termasuk di dunia maya. (pra)

 

Tag

MORE