ARUSBAWAH.CO - Dosen Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Herdiansyah Hamzah sempat menyebut soal Sindrom Stockholm dalam kehadirannya pada Kuliah Umum bertemakan: Dari Represi ke Resiliensi: Gerakan Rakyat dalam Bayang Kekerasan Negara” yang digelar FISIP Unmul, Rabu, 17 September 2025.
Di kesempatan itu, terucap istilah Sindrom Stockholm yang mengisyaratkan adanya tren aneh gerakan-gerapan sosial masyarakat, terutama di kalangan mahasiswa.
Case terakhir, yakni ketika kelompok mahasiswa di Samarinda yang lantang menyuarakan soal tuntutan rakyat, tetapi selang beberapa hari kemudian, justru bersama aparat melakukan aksi sosial.
Ini lah yang menurut Castro, biasa Herdiansyah Hamzah di sapa, ia istilahkan menyerupai Sindrom Stokholm.
“Kan lucu, yang dikritik represifnya aparat tapi malah mesra kemudian. Seperti Sindrom Stokholm, korban malah jatuh cinta dengan pelaku,” katanya mengutip Jawapos.com.
Lantas, apa itu Sindrom Stokholm?
Fenomena psikologis yang terdengar asing tapi nyata ini disebut Sindrom Stockholm.
Kondisi ini terjadi ketika korban penculikan atau sandera mulai merasa simpati, loyal, bahkan membela pelaku, meski secara logika hal itu tampak kontradiktif.
Tag



