Arus Terkini

Kasus-kasus Pembunuhan Anak oleh Orang Tua di Indonesia, Mengapa Filicide Terus Terjadi?

Tragedi di Samarinda: Dua Balita Tewas di Tangan Ayah Kandung

Jumat, 1 Agustus 2025 20:37

TKP - TKP pembunuhan 2 balita oleh ayah kandung di Samarinda masih dipasang garis polisi (Foto: HO)

ARUSBAWAH.CO - Tragedi mengguncang warga Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, ketika dua balita, AM (4) dan MA (2), ditemukan tewas di rumah mereka.

Ayah kandung mereka, WH, menjadi pelaku pembunuhan.

Keluarga menyebutkan, WH sebelumnya dikenal pendiam dan penyayang, namun dalam sebulan terakhir, ia mengalami perubahan drastis akibat sakit, kehilangan pekerjaan, dan tekanan rumah tangga, termasuk permintaan cerai dari istrinya.

Tragedi terjadi saat WH sendirian di rumah bersama anak-anak, dan diduga sempat mencoba bunuh diri namun digagalkan oleh ibunya.

Menanggapi persoalan tersebut, Psikolog Ayunda Ramadhani menyebut kasus ini sebagai filicide (pembunuhan anak oleh orang tua) dan menekankan pentingnya pemeriksaan kejiwaan serta deteksi dini gangguan mental, terutama di keluarga dengan tekanan emosional tinggi.

Sebelumnya, pada 2 Maret 2025, dunia dikejutkan dengan kabar mengerikan dari Semarang.

Seorang anggota Direktorat Intelijen dan Keamanan Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Brigadir Ade Kurniawan, yang akrab disapa AK, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan bayi kandungnya yang baru berusia dua bulan.

Kejadian ini semakin menambah catatan kelam filicide di Indonesia.

Menurut Kepala Bidang Humas Polda Jateng, Komisaris Besar Artanto, kasus ini bermula saat istri AK, DJ, meninggalkan bayinya, NA, di dalam mobil untuk berbelanja.

Setibanya di mobil, DJ terkejut saat menemukan kondisi anaknya yang tidak wajar.

Meskipun sudah dibawa ke rumah sakit, nyawa bayi malang itu tak tertolong.

Hasil penyelidikan polisi menunjukkan bahwa bayi tersebut meninggal akibat dicekik.

Kejadian ini mengguncang banyak pihak, terutama karena pelakunya adalah seorang aparat penegak hukum.

Fenomena filicide: Masalah Sosial yang Tersembunyi di Tengah Masyarakat

Filicide atau pembunuhan anak oleh orang tua bukanlah fenomena baru.

Aksi ini sudah terjadi sejak zaman dahulu, bahkan sebelum Islam, di mana pembunuhan bayi perempuan dianggap biasa.

Di Indonesia, meskipun belum ada penelitian yang mendalam mengenai filicide, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa pada 2023, ayah kandung menjadi pelaku terbanyak dalam kasus pembunuhan anak, dengan 38 laporan.

Diyah Puspitarini, Komisioner KPAI, menyoroti fenomena filicide yang sering kali terungkap hanya di permukaan, seperti gunung es yang sebagian besar tersembunyi.

Ia menekankan pentingnya pengawasan dan perhatian lebih terhadap kondisi psikologis orang tua yang berisiko melakukan tindakan filicide tersebut.

Menurut psikiatris AS PJ Resnick, ada beberapa kategori motif filicide, mulai dari altruistic filicide, di mana orang tua membunuh anak dengan alasan untuk mencegah penderitaan mereka, hingga spousal revenge filicide, yang terjadi sebagai balas dendam terhadap pasangan.

Fenomena filicide ini menunjukkan kompleksitas emosi dan situasi yang mendasari tindakan tragis tersebut.

Kasus Filicide di Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa kasus filisida yang mengguncang telah terungkap dengan berbagai motif dan cara yang sangat mengerikan.

Pada Januari 2018, di Jakarta Pusat, seorang pria bernama Kasdi, 21 tahun, ditangkap setelah menginjak-injak perut istrinya yang hamil tujuh bulan, akibat kecurigaan terhadap perselingkuhan sang istri.

Meskipun istrinya selamat, bayi yang dikandungnya tidak berhasil diselamatkan.

Di Tangerang Selatan, Yunida, seorang wanita berusia 21 tahun, tega membunuh bayinya yang baru dilahirkan dengan pisau dapur pada Januari 2018.

Ia membuang jasad bayi tersebut di tempat sampah setelah membunuhnya karena tidak ingin identitas anaknya diketahui orang lain.

Lebih mengerikan lagi, pada April 2019, seorang wanita bernama MS di Jakarta Barat menganiaya bayinya yang baru berusia tiga bulan hingga meninggal.

MS mengaku merasa malu karena anaknya merupakan hasil kehamilan di luar nikah, dan menganggap anak tersebut sebagai "bawa sial".

Kasus filicide lainnya termasuk seorang pria di Tangerang yang membunuh anaknya yang berusia lima tahun, dan seorang pria di Bekasi yang membunuh bayi hasil perkosaan oleh dirinya sendiri pada 5 April 2023.

Pembunuhan ini dilakukan dengan cara membekap mulut bayi yang baru lahir, hingga sang bayi tidak dapat bernapas.

Tak kalah mengerikan, pasangan muda di Jakarta Timur, MF dan DAP, membunuh bayi mereka yang baru lahir di kloset klinik pada 24 Januari 2024.

Pasangan ini sebelumnya mencoba menggugurkan kandungan dengan obat, namun saat DAP melahirkan, mereka membunuh bayi tersebut untuk menutupi perbuatan mereka.

Mengapa Filicide Terus Terjadi?

Tentu saja, setiap kasus filicide memiliki cerita dan latar belakang yang berbeda

Namun, banyak kasus filicideb yang terjadi karena masalah kejiwaan orang tua, masalah ekonomi, tekanan sosial, atau bahkan balas dendam terhadap pasangan.

Tindakan filicide ini sering kali melibatkan masalah mental yang mendalam, seperti depresi, gangguan psikotik, atau masalah hubungan yang sangat kompleks.

Filicide bukan hanya tentang tindakan kriminal, ini adalah masalah sosial yang mencerminkan kondisi keluarga dan masyarakat kita.

Oleh karena itu, kesadaran dan perhatian lebih terhadap kesejahteraan mental orang tua, serta sistem pendukung yang lebih baik bagi keluarga, sangat penting untuk mencegah kejadian-kejadian filicide seperti ini di masa depan. (apr)

Tag

MORE