Arus Publik

Kasus Hilangnya Motor Mahasiswa Samarinda: Kendaraan Ternyata Hasil Kredit Sebelum Kuliah dan Cicilan Masih Tersisa 7 Bulan

Derita Mahasiswa motor hilang, cicilan belum lunas

Sabtu, 23 Mei 2026 21:54

Muhammad Nazmin, mahasiswa perantau di Samarinda yang kehilangan motor hingga aktivitas kuliahnya terganggu. (Istimewa)

Kehilangan motor sebagai alat transportasi utama membuat kehidupan sehari-hari Nazmin di Samarinda menjadi terganggu. 

Dampak paling nyata yang dirasakannya adalah pembengkakan biaya hidup yang luar biasa karena harus naik ojek online setiap hari untuk pergi dan pulang dari tempat tinggalnya ke kampus UINSI Samarinda.

“Kalau mau dibilang sangat ganggu, ya sangat sangat sangat ganggu sih. Soalnya tempat saya juga kan jauh dari kampus. Baru kalau misal ini pesan Maxim biasa, pulang pergi itu habis Rp80.000,” jelas Nazmin.

Gara-gara ongkos ojek yang tembus Rp80.000 per hari, aktivitas kuliah Nazmin menjadi terganggu. 

Kendala biaya transportasi harian ini membuat Nazmin beberapa kali terpaksa melewatkan jadwal perkuliahan karena keterbatasan ongkos operasional ke kampus.

“Aktivitas kuliah terganggu. Kadang-kadang ini mata kuliah ini ada yang tidak masuk, jadi kayak gitulah,” ungkap mahasiswa semester 2 tersebut.

Karena tidak sanggup terus-menerus membayar biaya ojek online yang mahal, Nazmin akhirnya mengambil keputusan untuk pindah dari tempat tinggal lamanya di kawasan Jalan Bung Tomo. 

Sekarang, ia menyewa kamar kos yang lebih dekat dengan kampus UINSI dengan harga Rp700.000 per bulan demi menghemat uang transportasi harian.

“Hanya keinginan (pindah). Sekalian ini juga, kalau misal biaya tarif Maxim itu kan Rp80.000 per hari kan mending ngekos dekat kampus aja,” tuturnya.

Kontras Latar Belakang Keluarga dan Beban Orang Tua

Beban yang dipikul Nazmin di tanah perantauan terasa semakin berat jika melihat kondisi ekonomi keluarganya. 

Mahasiswa ini merupakan anak kedua dari enam bersaudara yang merantau dari Kecamatan Sandaran, Kabupaten Kutai Timur, wilayah yang terletak cukup jauh dari Kota Samarinda.

Di kampung halaman, orang tua Nazmin hanya bekerja sebagai buruh tani. 

Dengan tanggungan enam orang anak dan penghasilan buruh tani yang pas-pasan, kehilangan motor ini menjadi pukulan telak yang menambah beban keluarga mereka.

Tag

MORE