Selain itu, ia mengingatkan bahwa keterlibatan kampus dalam sektor tambang dapat menurunkan kualitas riset akademik.
"Bagaimana kita bisa berharap ada penelitian objektif mengenai dampak lingkungan pertambangan jika universitas sendiri memiliki kepentingan bisnis di dalamnya? Independensi akademik bisa hancur," kata Boni.
Dari perspektif lingkungan, ia menilai bahwa kampus seharusnya menjadi pelopor dalam memperjuangkan keberlanjutan, bukan malah ikut serta dalam industri yang selama ini dikritik karena merusak alam.
Ia menyebut bahwa Indonesia masih memiliki banyak masalah akibat eksploitasi tambang yang tidak terkendali, mulai dari deforestasi hingga pencemaran sungai dan tanah.
Boni juga menyoroti dampak sosial dari kebijakan ini, terutama terhadap masyarakat adat dan komunitas lokal yang selama ini terdampak langsung oleh aktivitas pertambangan.
"Sudah banyak kasus di mana masyarakat kehilangan tanahnya karena ekspansi tambang. Jika kampus ikut serta, apakah mereka akan lebih berpihak pada rakyat atau justru menjadi bagian dari masalah?" ujarnya.
Menurutnya, solusi untuk pendanaan kampus tidak harus berasal dari sektor tambang.
Ia mendorong pemerintah dan perguruan tinggi untuk lebih kreatif dalam mencari sumber pendapatan alternatif yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai akademik dan keberlanjutan lingkungan.
"Ada banyak cara lain untuk meningkatkan pemasukan kampus, seperti riset berbasis inovasi, kerja sama dengan industri teknologi, atau pengembangan bisnis sosial. Tidak harus lewat tambang," jelasnya.
Tag



