“Yang dari Samarinda dan Palaran juga bawa sepeda malam ini,” katanya.
Mereka datang bukan hanya untuk tampil, tetapi menyatukan semangat dalam bentuk kenangan masa lalu.
“Satu sepeda sejuta saudara, sekali kayuh kalori runtuh, sehat, rukun, selawasi,” kaya Mas Joy menyampaikan visi misi komunitas.
Sepeda Onthel bukan sekadar alat transportasi. Di Kaltim, komunitas sepeda Onthel menjadi ruang silaturahmi, budaya, dan olahraga.
“Kegiatan rutin kami ngontel bareng setiap Minggu pagi, kadang saling undang antar komunitas. Ada juga yang ikut PORNAS di NTB, lomba sepeda cepat dan sepeda lambat,” terang Mas Joy.
Komunitas sepeda tua di Kaltim terbuka untuk siapa saja yang cinta terhadap sepeda tua, syarat gabungnya sederhana.
“Punya sepeda onthel, sehat jasmani dan rohani, bisa ngontel,” kata Mas Joy.
Di Samarinda saja, ada sekitar 100-an anggota aktif.
“Kalau total se-Kaltim, mungkin lebih dari 400 orang,” tambahnya.
Uniknya, usia anggotanya beragam, dari anak 9 tahun yang berasal di Loa Kulu, Kukar sampai yang tertua berumur 73 tahun asal Palaran, Samarinda.
Soal koleksi, komunitas itu punya sepeda legendaris hingga sepeda zaman perang dulu.
“Yang paling mahal Rp250 juta, keluaran 1923, tanpa rantai. Rata-rata sih buatan tahun 1942 sampai 1960-an, ada juga sepeda jaman perang dulu,” ungkap Mas Joy.
Tag



