Arus Publik

Bursa Ketua KONI Kaltim

Jika Terpilih Ketua KONI Kaltim, Syahariah Mas’ud Janji Ubah Nasib Atlet: Tak Lagi Dipakai Saat Butuh Lalu Ditinggalkan

Nama Syahariah Mas’ud Masuk Bursa Ketua KONI Kaltim 2026–2030

Rabu, 18 Maret 2026 22:33

Foto: Syahariah Mas’ud anggota Komisi IV DPRD Kaltim/IST

ARUSBAWAH.CO -  Nama Syahariah Mas’ud masuk dalam bursa calon Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur (Kaltim) periode 2026–2030.

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim dari Fraksi Golkar itu tak menutup kemungkinan maju, meski secara jelas ia belum mau memastikan langkah politiknya.

Dihubungi lewat sambungan telepon, Rabu (18/3/2026), Syahariah terdengar santai menanggapi dinamika yang berkembang.

Ia mengaku tak ingin terlalu jauh bicara soal ambisi.

Baginya, kontestasi itu seharusnya soal kapasitas, bukan sekadar siapa yang paling dulu mendeklarasikan diri.

“Kalau memang saya dicalonkan, saya harus legowo. Tapi masyarakat yang menilai kualitas dan kinerja calon,” katanya.

Tekankan Kualitas, Bukan Popularitas dalam Pemilihan Ketua

Masyarakat yang ia maksud bukan publik luas, melainkan pemilik suara di tubuh KONI dari kabupaten, kota, hingga provinsi.

Ia berkali-kali menekankan pentingnya ukuran yang jelas dalam memilih ketua.

Bukan sekadar popularitas, apalagi kedekatan politik.

“Jangan sampai memilih, tapi kinerjanya nol,” ujarnya, pendek.

Nama Syahariah lebih dulu muncul sebelum ramainya kandidat lain yang mulai disebut-sebut.

Situasi itu, menurut dia, justru sehat.

Banyak pilihan, kata dia, memberi ruang bagi penilaian yang lebih objektif.

Soroti Isu Dinasti dan Sikap Gubernur

Ia juga menyinggung posisi Gubernur Rudy Mas’ud dalam dinamika pemilihan kursi ketua KONI ini.

Menurut Syahariah, tak ada arahan khusus dari Rudy Mas’ud terkait siapa yang harus maju.

“Kalau mau maju, yang penting mampu. Itu saja kata gubernur. Tidak ada intervensi,” katanya.

Isu yang belakangan ikut menyeret namanya adalah tudingan dinasti politik.

Ia tampak cukup terusik dengan label politik dinasti itu.

Nada bicaranya berubah lebih tegas saat menanggapi hal tersebut.

“Kami ini bukan kerajaan. Kami dipilih rakyat, bukan dipilih keluarga,” ucapnya.

Bagi Syahariah, tudingan dinasti seringkali dilempar tanpa pemahaman yang utuh.

Ia bahkan balik mempertanyakan definisi istilah dinasti politik kepada publik.

“Saya mau tanya apa itu Dinasti? Kami bekerja. Yang pilih rakyat. Bukan dipilih oleh keluarga. Susah nih masyarakat,” ucapnya.

 

Fokus Utama: Perubahan Nasib Atlet Kaltim

Namun di luar polemik itu, ia justru lebih banyak bicara soal hal yang menurutnya paling mendesak yaitu nasib atlet.

Ia melihat ada pola lama yang terus berulang atlet dipakai saat dibutuhkan, lalu dilepas begitu saja.

“Jangan hanya dipakai saat butuh. Setelah itu, apa yang diberikan?” katanya.

Ia bercerita, banyak atlet di Kaltim kehilangan fokus bukan karena malas, tapi karena harus memikirkan hidup.

Latihan dan kompetisi tidak selalu sejalan dengan kebutuhan ekonomi.

Janji Program: Pembinaan hingga Jaminan Masa Depan Atlet

Dari situ, Syahariah menawarkan pendekatan yang lebih praktis.

Ia ingin pembinaan atlet tidak berhenti di lapangan, tapi berlanjut ke jaminan masa depan.

“Latih mereka dengan baik. Setelah itu, pikirkan pekerjaan mereka. Harus ada jalan,” ujarnya.

Jika terpilih, Ia menyebut kemungkinan atlet diarahkan sebagai pegawai maupun bekerja di perusahaan.

Tujuannya sederhana yakni atlet tidak hidup dari ketidakpastian.

Bahkan, ia melempar gagasan yang terbilang berani.

Menurut dia, atlet-atlet yang berprestasi layak mendapat fasilitas yang lebih layak.

“Kalau perlu, rumahnya disiapkan. Fasilitasnya juga. Jangan dibiarkan,” katanya.

Dukungan Mulai Mengalir, Namun Masih Menahan Diri

Di sisi lain, Syahariah mengaku dukungan terhadap dirinya disebut sudah mulai berdatangan, termasuk dari pengurus KONI daerah.

Ia mengaku diajak untuk maju ketua KONI Kaltim oleh sejumlah pihak, salah satunya dari pengurus KONI Balikpapan.

Namun lagi-lagi, ia memilih menahan diri.

“Saya tidak bisa langsung mengiyakan. Kalau ada yang lebih bagus, kenapa tidak saya dukung,” ujarnya.

Kritik Kondisi KONI: Jangan Sampai “Mati Suri”

Syahariah menyebut tidak ingin sekadar menjadi kandidat pelengkap, tapi juga tidak ingin terlihat memaksakan diri.

Di ujung pembicaraan, Syahariah kembali menyinggung kondisi KONI yang ia nilai perlu pembenahan serius.

“Jangan sampai ketuanya mati suri. Tidak ada aktivitas,” katanya.

(wan)

 

Tag

MORE