Isu yang belakangan ikut menyeret namanya adalah tudingan dinasti politik.
Ia tampak cukup terusik dengan label politik dinasti itu.
Nada bicaranya berubah lebih tegas saat menanggapi hal tersebut.
“Kami ini bukan kerajaan. Kami dipilih rakyat, bukan dipilih keluarga,” ucapnya.
Bagi Syahariah, tudingan dinasti seringkali dilempar tanpa pemahaman yang utuh.
Ia bahkan balik mempertanyakan definisi istilah dinasti politik kepada publik.
“Saya mau tanya apa itu Dinasti? Kami bekerja. Yang pilih rakyat. Bukan dipilih oleh keluarga. Susah nih masyarakat,” ucapnya.
Fokus Utama: Perubahan Nasib Atlet Kaltim
Namun di luar polemik itu, ia justru lebih banyak bicara soal hal yang menurutnya paling mendesak yaitu nasib atlet.
Ia melihat ada pola lama yang terus berulang atlet dipakai saat dibutuhkan, lalu dilepas begitu saja.
“Jangan hanya dipakai saat butuh. Setelah itu, apa yang diberikan?” katanya.
Ia bercerita, banyak atlet di Kaltim kehilangan fokus bukan karena malas, tapi karena harus memikirkan hidup.
Latihan dan kompetisi tidak selalu sejalan dengan kebutuhan ekonomi.
Janji Program: Pembinaan hingga Jaminan Masa Depan Atlet
Dari situ, Syahariah menawarkan pendekatan yang lebih praktis.
Ia ingin pembinaan atlet tidak berhenti di lapangan, tapi berlanjut ke jaminan masa depan.
Tag



