“Wilayah tambang ini memotong sumber air, pangan, dan ruang hidup warga Berau dari hulu sampai hilir,” ujar Mustari.
Citra Satelit Ungkap Kerusakan Ekologis di Hulu Sungai
Dari pemantauan citra satelit terbaru, JATAM menemukan pembukaan hutan berskala luas, hilangnya tutupan vegetasi alamiah, serta munculnya pit-pit tambang aktif di seluruh zona hulu dua sungai tersebut.
Kata dia, kawasan yang sebelumnya menjadi penyangga ekologis kini berubah drastis.
Menurutnya, kerusakan itu berdampak pada fungsi ekologis sungai.
Sedimentasi meningkat, kualitas air menurun, dan risiko banjir serta kekeringan menjadi lebih ekstrem.
Menurut JATAM, Aktivitas tambang di hulu juga meningkatkan ancaman longsor dan kontaminasi air yang berpotensi mengalir ke pemukiman warga.
Ekspansi Sawit Perparah Risiko Bencana di Berau
Selain tambang, JATAM mencatat sekitar 60 perizinan perkebunan sawit tersebar di Berau, berdasarkan data Dinas Perkebunan Kaltim.
Ekspansi sawit dinilai memperparah kondisi dengan menghilangkan tutupan hutan dan daerah tangkapan air.
“Kombinasi tambang dan sawit sudah mengubah Berau menjadi wilayah rawan bencana. Ini bukan lagi soal cuaca, tapi soal kebijakan,” tegas Mustari.
(wan)
Tag



