Arus Publik

'Jangan Saya Disuruh Pakai Kijang, Dek': Jawaban Rudy Mas’ud saat Ditanya Mobil Dinas Rp 8,5 Miliar di Tengah Demo Mahasiswa

Pertanyaan mahasiswa soal mobil dinas

Selasa, 24 Februari 2026 16:47

BERSILA - Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud ketika berhadap-hadapan dengan puluhan mahasiswa di halaman teras kantor Gubernur jalan Gajah mada, Senin (23/2/2026)/Arusbawah.co

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menghentikan sejenak pernyataanya ketika seorang mahasiswa tiba-tiba menanyakan “Bagaimana mobil dinas Rp 8,5 miliar, Pak?”

ARUSBAWAH.CO -  Siang itu, Senin (23/2/2026), teras Kantor Gubernur Kalimantan Timur di Jalan Gajah Mada dipadati puluhan massa aksi demonstran yang datang menggeruduk lokasi.

Puluhan mahasiswa dari Aliansi Rakyat Menggugat (Geram) duduk berhadap-hadapan dengan orang nomor satu di Kaltim itu.

Tak ada podium, Rudy Mas’ud memilih duduk bersila di teras kantor, mencoba menjawab satu per satu pertanyaan yang mengarah padanya.

Isu mobil dinas itu menjadi salah satu persoalan yang turut dibahas dalam audiensi.

Angka Rp 8,5 miliar ramai dibahas dan menyebar di media sosial.

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran oleh pemerintah pusat dan kondisi ekonomi yang masih belum merata, nominal itu terasa sensitif di kalangan masyarakat Kaltim.

“Tenang, adek belum tahu soal itu mobil,” kata Rudy, nadanya tegas.

Sorry to say ya dek ya, mobil saya di Kalimantan Timur, enggak ada mobilnya Pemprov. Semua mobil pribadi,” tegas Rudy Mas’ud kepada para aksi demonstrasi.

Mendengar pernyataan Gubernur Rudy Mas’ud itu mahasiswa terlihat merasa belum puas.

Dari barisan belakang terdengar sahutan, “Tapi anggarannya dipakai kah, Pak?”

Rudy mengangkat tangan, meminta suasana tak memanas.

“Jangan suudzon, mari tabayun kita. Kita sedang berpuasa, jangan sampai jadi fitnah,” ujarnya.

Tercatat Data Pengadaan dan Penjelasan Regulasi

Nama paket pengadaan itu memang tercatat resmi.

Dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) Pemprov Kaltim Tahun 2025, tertera Kode RUP 61081965.

Tercatat, paketnya bernama kendaraan dinas pimpinan (ABT), satu unit, bersumber dari APBD Kaltim dengan pagu anggaran Rp 8,5 miliar.

Spesifikasinya tercatat SUV hybrid 2996 cc, tenaga 434 horsepower, kapasitas baterai 38,2 KWH.

Soal mobil dinas yang diadakan Pemprov, Rudy mengklaim unitnya saat ini berada di Jakarta, bukan di Kaltim.

“Sampai hari ini, di Kalimantan Timur, saya belum pernah pakai mobil dinas di sini,” ujarnya lagi.

“Mobil yang ada di sini semuanya mobil pribadi saya,” ungkapnya.

Menurut dia, unit yang diadakan berada di Jakarta.

Ia menyebut, kegiatan kepala daerah banyak berlangsung di Jakarta untuk menunjang agenda pemerintahan, pertemuan kementrian dan menerima tamu, termasuk dari luar negeri.

“Mobilnya ada di Jakarta. Mobilnya di sini enggak ada,” katanya.

Rudy lalu membawa penjelasan ke ranah regulasi.

Ia merujuk pada Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 7 Tahun 2006 tentang Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintahan Daerah.

“Untuk mobil jenis sedan maksimum 3.000 cc. Untuk Jeep maksimum 4.200 cc. Mobil yang kami adakan hanya yang 3.000 cc,” ucapnya.

Artinya, secara kapasitas mesin, kendaraan itu masih dalam batas aturan.

 

Penjelasan Soal Harga dan Proses

Soal harga? Rudy Mas’ud mengaku tak ikut menentukan.

“Kami tidak mengikuti berapa harganya. Kami hanya pesan mobilnya itu saja,” katanya saat ditemui wartawan di Gedung DPRD Kaltim, hari yang sama.

Penjelasan itu belum meredakan kritik.

Sebab yang dipersoalkan bukan sekadar cc mesin, melainkan urgensi dan rasa keadilan.

Argumen Citra Daerah dan Respons Mahasiswa

Di hadapan mahasiswa, Rudy mencoba memindahkan sudut pandang diskusi.

Ia bicara tentang citra daerah.

“Ingat, Kalimantan Timur ini etalase Indonesia. Jangan saya disuruh pakai mobil Kijang dek,” katanya, setengah berkelakar. Mahasiswa membalas dengan teriakan, “Siap, siap, siap Pak!”

Ia mengatakan bahwa mereka adalah tamu masyarakat Kalimantan Timur, dan selain itu juga menerima tamu dari kalangan global.

Karena itu, menurutnya, masyarakat Kaltim tidak boleh dipandang rendah seolah-olah daerah tersebut sangat miskin.

“Kita ini tamunya masyarakat Kalimantan Timur. Yang kedua, tamu kita adalah masyarakat global. Jangan direndahkan masyarakat Kaltim ini seolah-olah miskin banget gitu loh,” ujarnya.

Baginya, kendaraan dinas bukan semata alat transportasi, tapi simbol representasi daerah.

Kepala daerah, menurut dia, harus tampil pantas ketika menerima tamu nasional dan internasional.

Mahasiswa yang hadir siang itu tak langsung membantah lagi.

Bagi Rudy, persoalannya adalah kesalahpahaman.

“Masa iya kepala daerahnya pakai mobil ala kadarnya. Jaga dong marwahnya Kaltim. Ini marwahnya masyarakat Kalimantan Timur,” demikian Rudy Mas’ud menutup pernyataanya.

(wan)

 

 

Tag

MORE