Cindy mencontohkan keberadaan berbagai varietas padi lokal yang masih dipertahankan oleh komunitas adat. Setiap jenis padi memiliki nama, fungsi, dan makna yang berbeda, mulai dari kebutuhan konsumsi hingga kepentingan ritual.
"Ada jenis padi lokal yang tidak bisa digantikan, karena fungsinya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan juga spiritual dan ekologis," ujarnya.
Ia mengingatkan, hilangnya padi lokal tidak hanya berarti hilangnya sumber pangan, tetapi juga memutus ritual dan cara masyarakat memandang alam.
"Ketika padi lokal hilang, ritual yang terkait dengannya juga hilang. Ketika ritual hilang, cara masyarakat melihat sumber daya alam ikut berubah. Padi akan dipandang hanya sebagai komoditas untuk dijual. Hubungan antara manusia dan alam juga akan ikut hilang," katanya.
Pengetahuan Adat Terancam Tidak Lagi Diteruskan
WGII menjelaskan berbagai komunitas adat di Indonesia selama ini telah mengembangkan sistem pengelolaan alam berdasarkan pengalaman panjang yang disesuaikan dengan karakter wilayah masing-masing.
Di Komunitas Kasepuhan, misalnya, dikenal pembagian kawasan menjadi leuweung titipan, leuweung tutupan, dan leuweung garapan yang memiliki fungsi berbeda, mulai dari kawasan sakral sebagai sumber air dan pelindung keanekaragaman hayati hingga kawasan yang dapat dimanfaatkan secara terbatas sesuai aturan adat.
Sementara itu, praktik menjaga benih lokal dilakukan melalui lumbung padi di komunitas Kasepuhan maupun Baduy.
Masyarakat memanfaatkan berbagai tumbuhan sebagai pengawet alami agar benih tetap bertahan dalam waktu lama.
Namun, menurut Cindy, krisis biokultural juga dapat muncul dalam praktik konservasi modern ketika masyarakat adat kehilangan akses terhadap wilayah yang selama ini menjadi sumber pengetahuan mereka.
Akibatnya, masyarakat tidak lagi dapat mengambil jenis kayu tertentu untuk membangun rumah adat maupun memperoleh tanaman obat tradisional yang selama ini diwariskan oleh leluhur.
Tag



