Biji yang dikeluarkan beruang madu melalui feses dapat tumbuh dengan baik sehingga membantu regenerasi hutan.
Selain itu, beruang madu juga memangsa rayap, semut, dan serangga hutan lainnya yang berperan dalam proses dekomposisi bahan organik.
Tantangan dan Kendala KWPLH Balikpapan
Secara umum, KWPLH Balikpapan dinilai berfungsi optimal sebagai habitat buatan untuk konservasi ex-situ.
Namun, reproduksi beruang madu di KWPLH Balikpapan belum berhasil karena dua faktor utama.
Pertama, kondisi fisik beruang hasil sitaan yang mengalami cacat tubuh.
Kedua, luas enklosur yang terbatas hanya 1,3 hektar, jauh dari kebutuhan jelajah alami beruang madu yang mencapai 5–25 km² per tahun.
Tanggapan Masyarakat soal KWPLH Balikpapan
Hasil survei kepada 30 responden (pengunjung, warga sekitar, dan operator wisata) menunjukkan bahwa 100% menganggap keberadaan enklosur KWPLH Balikpapan ini penting.
Warga sekitar dan pelaku wisata mengaku sangat bergantung pada keberadaan KWPLH Balikpapan, sementara ketergantungan pengunjung lebih rendah karena adanya alternatif destinasi wisata lain di Balikpapan.
Buku tamu KWPLH Balikpapan berisi beragam komentar positif, mulai dari apresiasi terhadap pelestarian beruang madu hingga saran untuk menambah unsur pendidikan. (adv)




