ARUSBAWAH.CO - Empat titik di alur utama Sungai Mahakam rencananya akan dikeruk, sebagai salah satu opsi pengendalian banjir.
Lokasinya bukan sembarang wilayah tapi kawasan alur pelayaran vital yang sehari-hari dilalui tongkang batu bara dan kapal minyak besar.
Tim Arusbawah.co menelusuri titik-titik tersebut melalui citra satelit Google Maps yakni Muara Pegah di Kutai Kartanegara, Tanjung Dewa di antara Anggana dan Kutai Lama, Muara Nibung di Muara Jawa, serta Kerbau Timur di kecamatan yang sama.
Empat titik itulah yang disebut oleh Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengalami pendangkalan dan menjadi penghambat bagi kapal-kapal besar yang melintas.
Dari hasil pengamatan, jalur itu tampak menjadi lintasan padat kapal industri.
Namun kini kondisi kedalaman sungai Mahakam disebut kritis.
Tingkat kedalaman air atau Shallow Water Level (SWL) di muara Sungai Mahakam hanya sekitar 3,8 meter.
Terlalu dangkal untuk menampung volume air normal, apalagi untuk melayani kapal-kapal berbobot besar yang di atas 300 feet.
Pendangkalan ini dijadikan alasan pemerintah provinsi kaltim mendorong pengerukan sungai Mahakam.
Citra Satelit Google Maps: Tanjung Dewa Dekat Shorebase Perusahaan
Melalui aplikasi Google Maps, tim redaksi menemukan shorebase perusahaan yang berdiri di salah satu lokasi yang akan dikeruk, yakni Tanjung Dewa.
Shorebase adalah fasilitas di darat yang mendukung operasi lepas pantai, terutama di industri minyak, gas, dan kelautan. Fungsinya mencakup penyimpanan peralatan, koordinasi logistik, serta pengiriman personel dan material ke platform offshore.
Jetty atau dermaga biasanya menjadi bagian dari shorebase untuk bongkar muat kapal.
Lebih lanjut, di salah satu lokasi yang akan dikeruk Pemprov Kaltim itu, terpantau pula ada perusahaan PT Mashud Bersaudara Internasional (Masbro).
Masbro pada halaman Linkedin-nya bergerak pada usaha layanan shorebase, terminal penyimpanan tanki, penyimpanan LPG, galangan kapal, retail bahan bakar, dan liquid mud plant.
Lokasi operasinya, di Pendingin, kawasan Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara.
Perusahaan ini berdiri sejak 2017 lalu.
Penjelasan Gubernur Rudy Mas’ud soal Pengerukan
Dikonfirmasi wartawan, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud mengakui memang terjadi pendangkalan di sejumlah titik di Sungai Mahakam.
“Berkaitan dengan alur Sungai Mahakam, memang sudah sering saya sampaikan sebenarnya bukan hanya muara Pegah yang terjadi pendangkalan signifikan, tetapi juga di Tanjung Dewa. Di situ ada segitiga antara Anggana, Kutai Lama, dan Sanga-Sanga. Begitu juga dengan di Muara Nibung. Termasuk ada beberapa kerangka kapal tenggelam yang mengganggu alur pelayaran,” kata Rudy, saat diwawancara awak media pada Senin (3/11/2025).
Menurutnya, pemerintah provinsi tidak bisa bekerja sendirian karena kewenangan pengerukan berada di pemerintah pusat.
“Jadi begini, Sungai Mahakam ini terutama untuk navigasi dan alur pelayaran itu kewenangannya ada di pemerintah pusat, khususnya di Kementerian Perhubungan. Sedangkan sungainya sendiri untuk pengurukan dan fasilitas lainnya dipegang oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) di bawah PUPR,” jelasnya.
Namun Rudy menilai selama hampir 20 tahun, pemerintah pusat tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan optimal.
“Sudah hampir 20 tahun kegiatan yang berkaitan dengan tugas pemerintah pusat baik oleh balai maupun Kementerian Perhubungan tidak pernah dilaksanakan, padahal Mahakam ini urat nadi ekonomi Kaltim,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah pengerukan ini juga berkaitan dengan keluhan para pengusaha tongkang batu bara yang kapalnya sering kandas, Rudy tak menampik.
“Iya, salah satunya memang itu. Karena banyak kapal dengan DWT besar yang kandas saat air surut. Mereka sering menunggu air pasang, antre di tengah sungai. Pendangkalan ini mengganggu pelayaran dan perdagangan,” kata Rudy.
Rudy Mas’ud juga menyebut pengerukan akan membantu mengendalikan banjir di Samarinda dan kawasan hulu Mahakam.
“Banjir kita ini juga berkaitan dengan pendangkalan Sungai Mahakam. Jadi kalau tidak dikeruk, air dari hulu tidak bisa mengalir lancar,” pungkasnya.
(wan)




