Tahun berikutnya juga gagal.
“2006 saya ikut MTQ pertama di Bima, belum dapat juara. 2007 juga belum dapat juara,” ujarnya.
Baru pada 2008 ia berhasil meraih juara dan menembus MTQ tingkat nasional kategori anak-anak.
Merantau ke Kaltim dan Titik Balik Kehidupan
Perjalanan itu terus berlanjut hingga 2012.
Setelah mengikuti MTQ tingkat kabupaten di Bima, ia memutuskan merantau ke Makassar untuk kuliah.
Namun konflik antar mahasiswa saat itu memaksanya meninggalkan kota tersebut.
“2012 ada konflik mahasiswa Bima dengan mahasiswa Makassar. Saya harus pindah dari situ,” katanya.
Ia kemudian memilih merantau ke Kaltim.
Saat tiba di Kutai Timur, tidak ada yang mengenalnya sebagai qori.
“Saya tinggalnya jauh dari peradaban kota, di pedesaan terpencil,” katanya.
Titik balik hidupnya datang pada akhir 2012. Sebuah perusahaan di Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, menggelar Maulid Akbar sekaligus peresmian perusahaan PT Anugerah Energi Tama.
Saat itu, kata Imranul, panitia membutuhkan seorang qori.
Karena sering mengumandangkan azan di masjid, warga setempat menunjuk Imranul untuk mengisi acara.
Di acara itulah ia dilirik oleh pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kecamatan Bengalon.
“Mereka heran, kok ada qori bagus tinggal di desa terpencil seperti ini,” katanya.
Perjalanan Menuju Juara Nasional dan Internasional
Sejak saat itu, namanya mulai diperhitungkan.
Pada 2014 ia mengikuti MTQ tingkat Kecamatan Bengalon dan langsung meraih juara pertama.
Prestasinya berlanjut ke tingkat kabupaten Kutai Timur.
Ia meraih juara dua pada 2014 dan juara tiga pada 2015.
Hasil itu justru membuatnya semakin giat berlatih.
“Alhamdulillah sejak 2016 sampai sekarang saya tidak pernah lagi juara dua atau tiga di tingkat kabupaten maupun provinsi Kalimantan Timur,” katanya.
Sejak 2016 ia rutin mewakili Kaltim di ajang nasional.
Puncaknya terjadi pada 2024 saat ia meraih juara pertama MTQ Nasional.
Tag



