ARUSBAWAH.CO - Imranul Karim, qori internasional kelahiran Bima, 10 Juni 1994, kini dikenal sebagai salah satu pembaca Al-Qur’an terbaik yang dimiliki Indonesia.
Namun perjalanan menuju panggung dunia itu tidak lahir dari keluarga ulama, bukan pula dari keluarga qori.
Ia justru tumbuh dari kehidupan sederhana, kehilangan ibu sejak bayi, hidup sebagai anak perantau, hingga pernah menjadi korban perundungan.
Kini Imranul menetap di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur.
Namanya mulai dikenal luas setelah meraih juara pertama di dua ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) internasional pada akhir 2025 lalu.
Prestasi itu membuatnya menjadi satu-satunya qori yang berhasil meraih dua gelar juara dunia dalam satu tahun.
“Saya sebenarnya bukan keluarga dari keturunan tilawah. Bukan orang dari keturunan yang memang dari awal sudah punya paham tilawah,” kata Imranul saat menceritakan perjalanan hidupnya, kepada redaksi Arusbawah.co, Sabtu (7/3/2026) di masjid negara IKN.
Kehilangan Ibu Sejak Bayi dan Masa Kecil yang Penuh Perjuangan
Imranul lahir di Desa Waurata, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
Hidupnya berubah sejak kecil.
Ibunya meninggal ketika ia baru berusia tujuh bulan.
“Saya tuh ditinggal mama umur tujuh bulan. Bahkan sampai sekarang saya belum pernah melihat muka mama saya seperti apa. Zaman dulu di kampung kami enggak ada dokumentasi foto,” ujarnya sat berbincang dengan redaksi.
Sejak saat itu, ia diasuh oleh kakek dan neneknya.
Pada 2003, ia dibawa pindah ke Desa Melayu, Kabupaten, Bima.
Di tempat baru itulah kehidupan keras mulai ia rasakan.
Ia mengaku, sebagai anak pendatang dari keluarga kurang mampu, ia sering menjadi sasaran ejekan teman-temannya.
“Di situlah saya mendapat bully-an dari teman-teman karena saya pendatang dan bukan orang kaya. Bahkan saya sekolah itu nyeker dulu,” katanya mengenang.
Awal Mula Mengenal Tilawah Al-Qur’an
Meski demikian, lingkungan barunya justru memperkenalkannya pada dunia tilawah.
Ia tinggal dekat masjid dan sering mendengar teman-temannya melantunkan azan serta membaca Al-Qur’an dengan suara merdu.
“Setiap sore saya dengar teman-teman azan, kok bagus sekali suaranya. Saya tanya mereka belajar di mana, ternyata di Ustaz Sudirman Ibnu,” katanya.
Rasa penasaran membuatnya ikut belajar.
Dari situlah perjalanan tilawahnya dimulai.
Tiga tahun belajar, ia memberanikan diri mengikuti MTQ pertama pada 2006 di Bima.
Hasilnya belum memuaskan.
Tag



