“Untuk kurikulum, ada penambahan muatan seperti bahasa daerah. Di Samarinda menggunakan bahasa Kutai, tetapi tidak semua guru menguasai materi tersebut, sehingga ini menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.
Di sisi lain, penguatan pembelajaran berbasis teknologi seperti coding dan kecerdasan buatan juga belum berjalan optimal.
Keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki keahlian di bidang tersebut menjadi faktor penghambat.
Bahkan, beberapa sekolah masih membutuhkan bantuan pihak luar untuk menjalankan program tersebut.
“Pembelajaran digital seperti coding sebenarnya sudah mulai berjalan, namun masih terkendala pada kesiapan tenaga pengajar. Kalau gurunya belum siap, maka proses pembelajaran tidak akan maksimal,” jelasnya.
Permasalahan lain yang disorot adalah kekurangan tenaga pendidik yang cukup besar.
Data yang disampaikan menunjukkan jumlah kekurangan guru saat ini telah melebihi 500 orang dan berpotensi meningkat hingga sekitar 765 orang sampai akhir tahun.
Kondisi ini dinilai perlu penanganan cepat agar tidak mengganggu proses belajar mengajar.
“Per hari ini saja kita kekurangan lebih dari 500 guru. Kalau dihitung sampai akhir tahun, bisa mencapai sekitar 765 tenaga pengajar. Ini angka yang cukup besar dan harus segera dicarikan solusi,” ucapnya.
Keterbatasan tersebut, lanjutnya, belum dapat sepenuhnya diatasi melalui rekrutmen CPNS karena masih adanya tahapan administrasi dan pelatihan sebelum tenaga pengajar dapat bertugas.
Tag



