“Pancasila itu bukan hanya untuk diucapkan saat upacara. Nilainya harus hadir di rumah, di sekolah, di ladang, bahkan di media sosial. Kita ingin masyarakat kembali mempraktikkan nilai kebangsaan dalam tindakan nyata,” ujarnya di hadapan warga yang hadir.
Dalam kegiatan tersebut, dua narasumber — Sutardi dan Muhammad Miftah — dihadirkan untuk memperdalam pemahaman peserta. Mereka memaparkan tentang pentingnya pendidikan karakter, sejarah lahirnya Pancasila, hingga cara menjaga semangat kebangsaan di tengah perbedaan.
Diskusi pun berlangsung hangat, dipandu moderator Opieck yang membuat suasana semakin cair.
Salah satu peserta, seorang guru SD di Kertabuana, menyampaikan kegelisahannya tentang makin lunturnya semangat gotong royong di kalangan remaja.
Pertanyaan itu dijawab Didik dengan penuh empati. Ia menekankan bahwa perubahan sosial harus dimulai dari keteladanan.
“Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Kalau kita ingin mereka cinta tanah air, maka orang tua, guru, dan pemimpin harus memberi contoh terlebih dahulu,” kata Didik Agung.
Tag



