Lebih dari Ritual, Ini Soal Masa Depan Bersama
Ketua panitia Nyepi, I Gusti Bagus Armayasa, menyebut seluruh rangkaian telah dipersiapkan sejak jauh hari—mulai dari ritual awal hingga gotong royong pembuatan sarana upacara.
Dukungan masyarakat Samarinda pun menjadi catatan penting.
Di kota yang majemuk ini, toleransi bukan sekadar slogan, tapi sudah menjadi kebiasaan.
Sementara itu, tokoh umat Hindu I Made Subamia menegaskan, Nyepi membawa pesan yang lebih luas dari sekadar keheningan pribadi.
“Ini adalah kontribusi spiritual untuk mendoakan kedamaian Kalimantan Timur, terutama saat daerah ini menjadi pusat gravitasi baru Indonesia,” ujarnya.
Satu Bumi, Satu Keluarga
Nyepi Saka 1948 di Samarinda bukan hanya tentang sunyi. Ini adalah pengingat bahwa dunia yang ditempati bersama tidak bisa dijaga sendirian.
Apa yang terjadi di satu titik bumi, akan berdampak ke titik lainnya.
Dan di tengah perubahan besar Kalimantan Timur, pesan itu terasa semakin kuat: kita mungkin berbeda, tapi tetap berada dalam satu rumah yang sama. (red)
Tag



