ARUSBAWAH.CO - Di tengah denyut pembangunan Samarinda sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), umat Hindu di Kota Tepian bersiap menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dengan pesan yang lebih luas dari sekadar ritual keagamaan.
Tahun ini, tema “Vasudhaiva Kutumbakam” diangkat—sebuah filosofi kuno yang menegaskan bahwa seluruh penghuni bumi adalah satu keluarga.
Di tengah perubahan besar yang terjadi di Kalimantan Timur, pesan ini terasa semakin relevan: tentang bagaimana perbedaan tak lagi jadi sekat, melainkan jembatan untuk menjaga harmoni bersama.
Hening yang Tak Sekadar Sunyi
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Samarinda, I Putu Suberata, menegaskan bahwa Nyepi bukan sekadar momen berhenti dari aktivitas.
Lebih dari itu, hening adalah bentuk kepedulian terhadap bumi.
“Saat kami menghentikan aktivitas dan perjalanan, itu bukan hanya untuk diri sendiri. Itu adalah ruang bagi bumi untuk bernapas,” ujarnya.
Bagi umat Hindu, konsep Catur Brata Penyepian bukan sekadar ritual, tapi refleksi mendalam tentang relasi manusia dengan alam—bahwa apa yang dilakukan manusia hari ini akan berdampak pada masa depan bumi yang sama-sama dihuni.
Dari Sungai Mahakam hingga Hening Total
Rangkaian Nyepi di Samarinda dimulai dari ritual penyucian hingga perenungan total.
Semuanya terpusat di Pura Jagat Hita Karana.
1. Melasti – Penyucian Alam dan Diri
Prosesi ini digelar di Sungai Mahakam, sebagai simbol bahwa manusia dan alam berasal dari sumber yang sama.
Melasti bukan sekadar tradisi, tapi “bersih-bersih” lahir batin—menghanyutkan energi negatif dan mengambil sari kehidupan dari air suci.
2. Tawur Agung Kesanga & Ogoh-Ogoh
Sehari sebelum Nyepi, ritual ini menjadi simbol penyeimbang energi alam.
Pawai ogoh-ogoh bukan hanya tontonan, tapi representasi upaya menetralisir hal-hal negatif agar berubah menjadi energi positif.
3. Catur Brata Penyepian
Selama 24 jam, umat menjalani empat pantangan: tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak bersenang-senang.
Ini adalah fase paling hening—momen kontemplasi total.
4. Ngembak Geni
Setelah hening, kehidupan kembali bergerak. Hari ini menjadi ruang saling memaafkan, mempererat kembali hubungan sosial tanpa sekat.
Lebih dari Ritual, Ini Soal Masa Depan Bersama
Ketua panitia Nyepi, I Gusti Bagus Armayasa, menyebut seluruh rangkaian telah dipersiapkan sejak jauh hari—mulai dari ritual awal hingga gotong royong pembuatan sarana upacara.
Dukungan masyarakat Samarinda pun menjadi catatan penting.
Di kota yang majemuk ini, toleransi bukan sekadar slogan, tapi sudah menjadi kebiasaan.
Sementara itu, tokoh umat Hindu I Made Subamia menegaskan, Nyepi membawa pesan yang lebih luas dari sekadar keheningan pribadi.
“Ini adalah kontribusi spiritual untuk mendoakan kedamaian Kalimantan Timur, terutama saat daerah ini menjadi pusat gravitasi baru Indonesia,” ujarnya.
Satu Bumi, Satu Keluarga
Nyepi Saka 1948 di Samarinda bukan hanya tentang sunyi. Ini adalah pengingat bahwa dunia yang ditempati bersama tidak bisa dijaga sendirian.
Apa yang terjadi di satu titik bumi, akan berdampak ke titik lainnya.
Dan di tengah perubahan besar Kalimantan Timur, pesan itu terasa semakin kuat: kita mungkin berbeda, tapi tetap berada dalam satu rumah yang sama. (red)




