Menurutnya, berkurangnya representasi perempuan bisa berdampak signifikan pada pengawalan isu-isu sosial yang sangat memerlukan kepekaan gender, seperti pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan sosial.
“Isu-isu yang membutuhkan empati dan sensitivitas tinggi bisa saja kehilangan daya dorong kalau tidak ada cukup banyak perempuan di dalam parlemen,” tegasnya.
Meski begitu, Damayanti tetap memberikan apresiasi besar kepada tujuh perempuan yang saat ini masih bertahan dan dipercaya oleh masyarakat untuk duduk di kursi legislatif.
“Mereka sudah melalui berbagai ujian dan tantangan di dunia politik, dan mereka membuktikan bahwa perempuan mampu berdiri sejajar,” katanya.
Sebagai anggota legislatif yang membidangi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial, Damayanti menegaskan komitmennya untuk terus mengangkat isu-isu perempuan dan anak.
Ia optimis bahwa meskipun jumlahnya berkurang, kekuatan perempuan akan tetap terasa jika diiringi dengan kerja sama dan solidaritas yang kuat.
“Representasi perempuan bukan hanya soal jumlah, tapi tentang perspektif yang mereka bawa. Perempuan hadir dengan cara pandang berbeda yang sangat penting dalam merumuskan kebijakan publik,” pungkasnya.
Damayanti pun berharap ke depan akan semakin banyak perempuan yang mengambil peran aktif dalam politik dan membawa suara kaum perempuan ke ruang-ruang pengambilan keputusan. (adv)
Tag



