“Jalan ke darat goyang-goyang, kadang kaki kecelebok di lubang. Kami ini orang pinggiran, bukan orang sehebat yang orang bayangkan,” katanya.
Sebelum memiliki perusahaan, ayahnya hanyalah pedagang ikan kering dan bawang merah di pasar.
Perlahan, ekonomi keluarga mulai naik setelah memiliki PT Aliran Jaya.
Namun, gaya hidup sederhana dan hemat tetap diterapkan.
Diilustrasikannya, saat kecil dahulu, ketika sekolah, Syahariah hanya diberi sangu uang bengolan.
“Kami sering tidak dikasih sangu. Kadang cuma 50 perak, kadang 100, kadang tidak sama sekali. Jadi kami belajar hemat,” kenangnya.
Meski sempat merasa tertekan, Syahariah Mas'ud melihat pola asuh ayahnya sebagai fondasi keberhasilan.
Ketaatan beragama, kedisiplinan salat lima waktu, kebiasaan mengaji, hingga kebiasaan menghargai orang yang lebih tua masih ia pegang.
Ia menekankan bahwa pola didikan keras bukan berarti tanpa kasih sayang.
Justru di situlah bentuk perhatian orang tua agar anak-anaknya tidak terjerumus.
“Kalau ada nenek, tante, atau orang tua, kami wajib salim. Itu ajaran orang tua yang sampai sekarang saya jalani. Menghargai orang lebih tua meski bukan keluarga,” jelasnya. (irwan)
- Kembali Jadi Ketum Golkar Kaltim, Rudy Mas'ud Mau Turun ke Desa - Kecamatan
- Penjelasan Panitia Soal Biaya Pendaftaran Ketua KNPI Kaltim Rp50 Juta: Untuk Pelaksanaan Musda, Tidak Dikembalikan
- Wabup Kukar Rendi Solihin Diberitakan Syukuran Kemenangan Pilkada di Kampung Halaman, Sumbang Dana untuk Pengerasan Jalan
Tag




