Arus Politik

Cerita Syahariah Mas'ud: Dipukul Rotan Ortu hingga Sangu Uang Bengolan saat Sekolah

Kamis, 4 September 2025 12:8

ANGGOTA DEWAN - Syahariah Mas’ud Anggota Komisi IV DPRD Kaltim/Sumber: FB @HarumCenter

“Terlambat saja pulang, duaarr itu benjol-benjol, betis sama tangan kita biru-biru dipukul sama rotan," ujar Syahariah Mas'ud

ARUSBAWAH.CO - Berawal dari pertanyaan singkat soal Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Syahariah Mas'ud (beritanya di sini), anggota DPRD Kaltim yang baru menjabat, wawancara via telepon Arusbawah.co pada Selasa (2/09/2025) sore, obrolan jadi masuk ke mana-mana. 

Perbincangan soal aksi Hasan Mas'ud yang naik truk temui massa pendemo, Gratispol, Irma Suryani, hingga soal Coto Makassar dimakan terpisah dengan ketupat atau digabung, riwayat keluarga Mas'ud hingga soal masa kecil pun diungkap Syahariah. 

Dan tentu saja, obrolan hampir 40 menit itu redaksi rekam. Selain itu, juga redaksi kulik.

Termasuk saat Syahariah Mas'ud mengenang masa kecilnya yang ia ceritakan penuh didikan keras dari orang tua. 

Syahariah bercerita ia kerap dipukul rotan oleh almarhum ayahnya. Masa kecil hingga ia remaja, dikisahkan penuh tempaan. 

Rotan seolah menjadi simbol yang tak pernah lepas dari pengalamannya bersama saudara-saudaranya.

“Terlambat saja pulang, duaarr itu benjol-benjol, betis sama tangan kita biru-biru dipukul sama rotan,” ucap Syahariah yang juga adalah kakak dari Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud. 

Rotan, Mengaji, dan Salat

Ayahnya, Haji Mas’ud bin Abdul Latif, ia sebut keras dalam mendidik. 

Begitu juga sang ibu, Hajjah Ruwaidah binti Haji Kiai Muhammad Husain, yang diceritakan Syahariah menekankan kedisiplinan dan ketaatan agama.

Begitu disiplinnya soal agama, almarhum ortunya tak ragu menghukum fisik jika tahu anak-anak mereka alpa dalam ibadah. 

“Kalau tidak sembahyang, tidak mengaji, siap rotan. Kalau telat, tangan merah-merah. Dulu saya bilang, ‘ih, kenapa kejam betul orang tua saya?’ Tapi setelah besar baru saya paham,” kata Syahariah.

Hukuman rotan bukan hanya ketika lalai ibadah. 

Pulang malam karena latihan karate atau sekadar nongkrong bersama teman juga berujung pada amarah ayahnya. 

Ia sempat bercerita bagaimana sering memilih lari dari rumah saat pintu sudah dijaga dengan rotan

Namun, di balik itu semua, ia mengakui ada hikmah besar. 

Ketika remaja lain di masanya terjerumus mabuk-mabukan, Syahariah memilih menjauh. 

“Saya lihat teman SMA saya teler, bakar kecubung, mabuk. Saya sadar, oh ini gunanya orang tua saya mendidik keras. Kalau tidak, mungkin saya juga ikut begitu,” ujarnya.

 

Dari Pinggiran Pesisir Balikpapan

Syahariah Mas'ud bercerita ia lahir di Balikpapan pada Desember 1975. 

Ia berasal dari keluarga Bugis-Mandar, Sulawesi Barat. 

Masa kecilnya tak bisa dibilang mewah. 

Mereka tinggal di Kampung Baru, kawasan pinggiran pesisir Balikpapan dengan rumah kayu sederhana.

“Jalan ke darat goyang-goyang, kadang kaki kecelebok di lubang. Kami ini orang pinggiran, bukan orang sehebat yang orang bayangkan,” katanya.

Sebelum memiliki perusahaan, ayahnya hanyalah pedagang ikan kering dan bawang merah di pasar. 

Perlahan, ekonomi keluarga mulai naik setelah memiliki PT Aliran Jaya. 

Namun, gaya hidup sederhana dan hemat tetap diterapkan.

Diilustrasikannya, saat kecil dahulu, ketika sekolah, Syahariah hanya diberi sangu uang bengolan. 

“Kami sering tidak dikasih sangu. Kadang cuma 50 perak, kadang 100, kadang tidak sama sekali. Jadi kami belajar hemat,” kenangnya.

Meski sempat merasa tertekan, Syahariah Mas'ud melihat pola asuh ayahnya sebagai fondasi keberhasilan. 

Ketaatan beragama, kedisiplinan salat lima waktu, kebiasaan mengaji, hingga kebiasaan menghargai orang yang lebih tua masih ia pegang.

Ia menekankan bahwa pola didikan keras bukan berarti tanpa kasih sayang. 

Justru di situlah bentuk perhatian orang tua agar anak-anaknya tidak terjerumus. 

“Kalau ada nenek, tante, atau orang tua, kami wajib salim. Itu ajaran orang tua yang sampai sekarang saya jalani. Menghargai orang lebih tua meski bukan keluarga,” jelasnya. (irwan)

 

Tag

MORE