ARUSBAWAH.CO - Ekosistem startup Indonesia tengah menghadapi tantangan besar setelah nilai pendanaan yang masuk ke sektor tersebut mengalami penurunan tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Kajian Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mencatat investasi startup digital di Indonesia sempat mencapai puncaknya pada 2021 dengan nilai mencapai Rp144,06 triliun.
Saat itu, Indonesia menjadi salah satu tujuan utama investasi teknologi di Asia Tenggara.
Berbagai startup berhasil menarik pendanaan dalam jumlah besar seiring meningkatnya optimisme investor terhadap pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Pendanaan Turun Drastis hingga 2024
Namun, tren tersebut berubah dalam beberapa tahun berikutnya.
Hingga November 2024, nilai investasi startup digital Indonesia tercatat hanya sebesar Rp5,39 triliun.
Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 96 persen dibandingkan posisi puncak pada 2021.
Penurunan tersebut mencerminkan melambatnya arus modal ke sektor teknologi yang sebelumnya menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia.
Kondisi ini juga sejalan dengan tren global yang menunjukkan investor semakin selektif dalam menyalurkan dana ke perusahaan rintisan.
Ketergantungan pada Modal Asing Jadi Sorotan
Kajian CELIOS juga menyoroti masih tingginya ketergantungan startup Indonesia terhadap pendanaan asing.
Dari total investasi yang masuk ke ekosistem startup nasional, hanya sekitar 11 persen yang berasal dari investor domestik.
Sementara itu, sebagian besar investasi berasal dari luar negeri, terutama dari Singapura dan China yang menyumbang sekitar 55 persen dari total pendanaan.
Ketergantungan terhadap modal asing dinilai menjadi salah satu tantangan bagi keberlanjutan ekosistem startup nasional.
Ketika kondisi ekonomi global memburuk atau investor asing mengurangi ekspansi, aliran dana ke startup Indonesia ikut terdampak secara signifikan.
Banyak Startup Memilih Mendirikan Entitas di Singapura
Laporan tersebut juga mencatat bahwa sejumlah perusahaan teknologi Indonesia memilih mendirikan entitas usaha di Singapura.
Langkah ini dilakukan karena negara tersebut dinilai menawarkan regulasi, sistem perpajakan, serta struktur investasi yang lebih kompetitif bagi startup dan investor modal ventura.
Kondisi tersebut membuat Indonesia menghadapi tantangan untuk mempertahankan daya saingnya dalam menarik investasi teknologi di kawasan Asia Tenggara.
CELIOS Dorong Perbaikan Insentif Investasi
Untuk memperkuat ekosistem startup nasional, CELIOS merekomendasikan pengembangan berbagai insentif fiskal bagi industri modal ventura.
Menurut kajian tersebut, kebijakan insentif dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan minat investor menanamkan modal di perusahaan rintisan dan sektor inovasi.
CELIOS menilai penguatan insentif perpajakan dan pengembangan instrumen pendanaan domestik diperlukan agar Indonesia tidak semakin tertinggal dalam persaingan menarik investasi teknologi di tingkat regional. (naa)
- Naskah Akademik CELIOS: Peran Strategis Temasek Holdings dan Economic Development Board dalam Membangun Ekosistem Modal Ventura Singapura
- Laporan CELIOS: Hanya 19,4 Juta UMKM yang Bisa Akses Pembiayaan Formal, Mayoritas Masih Kesulitan Cari Modal
- Modal Ventura Sumbang Rp351 Triliun ke PDB, CELIOS Dorong Insentif Pajak untuk Perkuat Ekonomi Digital




