ARUSBAWAH.CO - Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dari Kabupaten Kutai Timur (Kutim), yakni Bumi Etam Sejahtera Kaliorang turut menjadi peserta dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Fullboard Pendalaman Materi Manajemen Rantai Pasok dan Rantai Nilai serta Alternatif Pembiayaan Tahun Anggaran 2025 yang digelar oleh Kementerian Transmigrasi RI.
Acara berlangsung pada 4–7 November 2025 di Hotel Gran Melia Jakarta, Jalan H. R. Rasuna Said, Kuningan Timur, Setiabudi, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini diikuti oleh beberapa Kelembagaan Ekonomi, Dinas yang Membidangi Ketransmigrasian atau pun Ketenagakerjaan di beberapa daerah, termasuk juga dari Kutai Timur.
Dalam kesempatan ini, pihak dari Bumi Etam Sejahtera Kaliorang diwakili langsung oleh direkturnya, Muhammad Ali.
Turut hadir pula Kades Kaliorang Nasrul Abdal Fatwa, pihak pendamping dari Dinas Transmigrasi Kutai Timur pada bidang sarana dan prasarana, Ruri Kurniawati Bamega dan pendamping bidang rantai pasok, Meliana.

Bahas Komoditas Pertanian, Perkebunan, hingga Peternakan
Dalam kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini, peserta mendapatkan materi mendalam terkait pengelolaan rantai pasok dan rantai nilai di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan.
Beberapa topik penting yang dibahas antara lain:
- Good Manufacturing Practice (GMP) dan Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) sebagai dasar penerapan standar mutu produk pangan.
- Identifikasi alur distribusi dan pasar bahan baku komoditas pertanian seperti tanaman pangan, hortikultura, serta komoditas perkebunan unggulan seperti kopi dan kakao.
- Pengenalan teknologi pengolahan pangan dan prinsip dasar produksi bersih untuk meningkatkan efisiensi serta nilai tambah hasil desa.
Selain itu, peserta juga diajak untuk memahami pentingnya standardisasi produk, termasuk penyusunan SOP, instruksi kerja, dan penentuan spesifikasi produk yang sesuai standar pasar nasional dan ekspor.
Desain Kemasan Jadi Sorotan
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah materi tentang peningkatan nilai produk melalui pengenalan jenis, bahan, bentuk pengemasan, dan desain kemasan produk.
Materi ini menekankan bahwa desain kemasan yang menarik dan sesuai karakter produk lokal dapat meningkatkan daya saing di pasar modern.
Dengan kemasan yang tepat, produk desa tak hanya bersaing di pasar tradisional, tapi juga bisa menembus pasar digital dan retail nasional.
“Desain kemasan sering dianggap sepele, padahal di situlah kesan pertama pembeli terbentuk. Kami belajar bagaimana kemasan bisa jadi bagian dari strategi pemasaran,” ujar Muhammad Ali, Direktur BUMDes Bumi Etam Sejahtera Kaliorang, salah satu peserta asal Kutai Timur.
Harapan BUMDes Kaliorang: Produk Desa Naik Kelas
Muhammad Ali menilai kegiatan Bimtek ini sangat relevan dengan tantangan BUMDes di lapangan, terutama dalam mengelola potensi komoditas pertanian dan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
“Selama ini, banyak potensi desa yang berhenti di bahan mentah. Setelah ikut pelatihan ini, kami jadi paham bahwa pengolahan, desain kemasan, hingga sertifikasi produk sangat penting untuk meningkatkan nilai jual,” jelasnya.
Ia juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut, dengan pendampingan berkelanjutan dari pemerintah pusat agar BUMDes bisa berkembang lebih profesional.
“Harapan kami, setelah pulang ke Kutai Timur, ada tindak lanjut yang konkret. Misalnya, pendampingan pemasaran dan pelatihan branding agar produk lokal Kaliorang bisa dikenal lebih luas,” tambahnya.


Sementara itu, Kepala Desa Kaliorang, Nasrul Abdal Fatwa, turut mengapresiasi pelaksanaan Bimtek tersebut.
Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi momentum penting bagi desa-desa di Kutai Timur untuk naik kelas dalam pengelolaan BUMDes.
“Selama ini banyak BUMDes yang sudah berjalan, tapi belum punya strategi bisnis yang kuat. Lewat pelatihan seperti ini, kami jadi tahu bagaimana mengelola potensi lokal dengan cara yang lebih profesional dan berkelanjutan,” ujar Nasrul.

Langkah Strategis Pasca Bimtek
Sebagai penutup kegiatan, peserta diminta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan diterapkan di daerah masing-masing.
Peserta juga diminta untuk mengidentifikasi potensi unggulan, merancang strategi pengolahan produk, hingga menyiapkan akses pembiayaan yang sesuai.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Transmigrasi berharap agar pihak-pihak di daerah, termasuk di antaranya adalah BUMDes dapat menjadi penggerak ekonomi desa yang berdaya saing, dengan produk yang tidak hanya berkualitas tetapi juga memiliki nilai jual tinggi di pasar nasional dan global. (sobizz/pra)




