Caranya, sebagian makanan dilemparkan ke jalan sambil dalam hati mengucap, “Datuk kami berbagi kue lah, cucu jangan diganggu.”
Beberapa jenis jajanan (kue) tradisional ketika melakukann perjalanan jauh, khususnya pada malam hari tersebut ialah kue cucur, kue lupis, hingga lemang, yang mitosnya adalah makanan para penghuni ‘alam sebelah’.
8. Kutukan Bagi yang Tebang Pohon
Hutan rimba di Kalimantan menyimpan sejuta kisah misteri dan legenda yang masih hidup hingga kini.
Salah satunya adalah hutan adat ulin di Kalimantan Tengah, yang dikenal dengan mitos kutukan bagi siapa pun yang berani menebang pohonnya.
Kawasan hutan adat ini terletak di Mungku Baru, Rakumpit, sekitar satu jam perjalanan dari Kota Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah.
Hutan adat seluas 500 hektare ini terdiri dari 400 hektare hutan inti dan 100 hektare hutan penyangga, yang masih terjaga keasriannya hingga kini.
Menurut masyarakat setempat, warga Dayak Ngaju di Mungku Baru, kisah kutukan ini telah diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi bahwa siapa pun yang menebang pohon ulin akan tertimpa musibah, bahkan keluarganya bisa ikut kena bala.
Karena kepercayaan itu, pohon yang sempat ditebang biasanya dibiarkan hingga ditumbuhi lumut, tak ada yang berani menyentuhnya lagi.
Mitos ini mungkin terdengar menyeramkan, tapi justru berkat keyakinan masyarakat setempat, hutan adat ulin tetap lestari dan terasa liar sekaligus sakral.
Pepohonan ulin yang menjulang tinggi, udara lembap, serta batang-batang tua yang berlumut menciptakan nuansa petualangan yang memukau bagi siapa pun yang datang menjelajahinya.
Penutup
Bagi masyarakat Dayak Ngaju, pamali bukan sekadar larangan tanpa dasar, melainkan bentuk penghormatan terhadap alam dan nilai-nilai hidup.
Keberadaan berbagai mitos dan pamali di Kalimantan Tengah menjadi bukti bahwa masyarakat setempat masih menjunjung tinggi warisan budaya leluhur.
Di balik larangan-larangan pamali dan mitos yang terdengar mistis, tersimpan pesan moral yang mendalam, yakni untuk hidup dengan hati-hati, menjaga sopan santun, dan menghormati alam sekitar.
Meski zaman telah berubah, nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai mitos maupun pamali tetap relevan sebagai pengingat agar manusia tidak lupa akar tradisinya dan selalu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
(apr)




