Arus Publik

Audit Dugaan Kelalaian Medis di RS Pemerintah Belum Terbit, Ibu Bayi: Kami Dipaksa Menunggu?

Janji dua minggu berubah sebulan, keluarga korban kecewa

Rabu, 29 April 2026 22:3

Ibu korban bayi nekrosis tangan di RSUD AWS Samarinda saat menjalani wawancara terkait proses penanganan medis anaknya

ARUSBAWAH.CO -  Ketidakpastian mengenai hasil audit medik kasus dugaan kelalaian medis di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) yang menyebabkan jaringan tangan seorang bayi membusuk (nekrosis), kini berujung pada kekecewaan mendalam pihak keluarga. 

Janji transparansi yang sebelumnya diumbar oleh manajemen rumah sakit dan legislatif, kini dinilai hanya menjadi drama penguluran waktu.

Hingga Senin (27/4/2026), keluarga korban belum menerima kejelasan mengenai hasil audit yang semula dijanjikan rampung dalam dua minggu, namun secara sepihak diperpanjang menjadi satu bulan oleh pihak rumah sakit.

Kontras Kecepatan: Tindakan Medis vs Pertanggungjawaban

Rafita, ibu kandung bayi korban, mengungkapkan kekecewaannya saat dihubungi melalui via telepon. 

Bagi Rafita, alasan teknis yang membuat audit molor hingga satu bulan sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan urgensi tindakan medis yang dialami anaknya saat kejadian.

"Anak saya tidak menunggu dua minggu atau sebulan untuk dioperasi. Saat itu, dia harus naik meja operasi detik itu juga, harus diinfus hari itu juga. Tapi mengapa untuk sebuah audit pertanggungjawaban, kami dipaksa menunggu berminggu-minggu?" cetus Rafita dengan nada getir (27/4).

Ia menilai, lambatnya proses audit ini menciptakan ruang bagi opini liar di masyarakat. 

Rafita mengaku mulai mendapat tekanan psikologis dari lingkungan sekitar yang mencurigai adanya kesepakatan di bawah meja atau suap antara pihak keluarga dan rumah sakit.

"Saya tidak minta timbal balik uang atau kompensasi. Saya hanya ingin tahu secara terbuka mengapa tangan anak saya bisa bolong. Jika audit ini tertutup dan lama, muncul fitnah seolah saya sudah menerima suapan. Padahal, saya hanya ingin keadilan agar kejadian ini tidak terulang pada bayi lain," tegasnya.

Tag

MORE