ARUSBAWAH.CO - Pemerintah Kota Samarinda masih terus melakukan pembenahan di Pasar Pagi meski bangunan baru pasar tersebut sudah mulai ditempati pedagang.
Salah satunya, tempias yang kerap terjadi saat hujan turun akan diatasi dengan pemasangan sliding door atau pintu geser.
Tak hanya itu, pemerintah juga mulai menyusun rencana pembangunan eskalator tambahan setelah mengevaluasi pola pergerakan pengunjung di Pasar Pagi.
Asisten II Sekretariat Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengakui masih terdapat sejumlah hal yang perlu disempurnakan agar pasar yang digadang-gadang menjadi ikon baru perdagangan Samarinda itu dapat berfungsi maksimal.
Menurutnya, saat ini pemerintah masih fokus menata berbagai kebutuhan yang muncul setelah para pedagang mulai menempati gedung baru tersebut.
"Pasar Pagi ini sedang kita benahi dulu. Karena sekarang dari sekitar 2.500 pedagang, rasanya baru sekitar 1.000-1.500 yang masuk," kata Marnabas saat diwawancarai awak media, Jumat (19/6/2026).
Untuk mempercepat penyelesaian berbagai persoalan yang muncul, Pemkot Samarinda sudah membentuk tim khusus.
Tim ini bertugas menginventarisasi berbagai kebutuhan serta kelemahan bangunan yang ditemukan setelah pasar mulai beroperasi.
Salah satu pekerjaan yang akan segera dilaksanakan adalah pemasangan sliding door.
Pemkot telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp3 miliar untuk pekerjaan tersebut dan kini masih dalam proses lelang.
Marnabas menyebut penanganan proyek itu masih dikoordinasikan antara Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Dinas Perdagangan.
Selain itu, beberapa bagian bangunan yang mengalami kerusakan juga akan diperbaiki.
Termasuk salah satunya pada area jenjang atau tangga darurat yang ditemukan mengalami keretakan.
"Kalau ada bagian yang retak atau perlu perbaikan tentu akan kita perbaiki," ujarnya.
Pemkot Kaji Tambah Eskalator
Tak hanya melakukan perbaikan, Pemkot juga mengevaluasi pola pergerakan pengunjung di dalam pasar.
Hasilnya ternyata berbeda dari perkiraan awal saat gedung dirancang.
Semula pemerintah memperkirakan pengunjung akan memanfaatkan fasilitas lift yang telah disediakan.
Bahkan dua unit lift telah dipasang, masing-masing di sisi Jalan Sudirman dan Jalan Gajah Mada.
Namun setelah pasar mulai digunakan, kebiasaan masyarakat justru menunjukkan hal berbeda.
Menurut Marnabas, warga Samarinda ternyata lebih memilih menggunakan eskalator dibandingkan lift.
Padahal pada bangunan saat ini fasilitas eskalator baru tersedia untuk akses ke lantai dua.
"Awalnya kita pikir orang masuk naik lift. Minimal di lantai dua kan sudah ada eskalator. Tapi ternyata kondisinya berbeda. Orang lebih banyak dari Sudirman," katanya.
"Orang Samarinda ternyata lebih suka eskalator daripada lift. Padahal kita siapkan dua lift di sana, satu di Sudirman dan satu di Gajah Mada," sambungnya.
Temuan tersebut membuat pemerintah mulai mempertimbangkan pembangunan eskalator tambahan.
Bahkan, bukan hanya di satu sisi bangunan.
Pemkot tengah mengkaji kemungkinan pembangunan eskalator pada akses dari Jalan Sudirman maupun Gajah Mada.
"Kalau yang mau dibangun dari sisi Sudirman, nanti kita akan coba dua-duanya supaya eskalator bisa jalan," ujar Marnabas.
Ia menjelaskan sejumlah opsi desain masih dibahas oleh tim teknis.
Termasuk kemungkinan memanfaatkan area tangga yang menjadi pintu masuk saat ini untuk pemasangan eskalator.
"Di tangga itu nanti kita akan lihat. Apakah di tengah atau bagaimana, yang penting enak digunakan," katanya.
Sliding Door Dinilai Kurangi Estetika, Tapi Dinilai Perlu
Persoalan lain yang tengah menjadi perhatian pemerintah adalah masuknya air hujan ke dalam bangunan saat cuaca ekstrem.
Fenomena itu justru baru muncul setelah para pedagang mulai menempati gedung baru.
Padahal selama hampir dua tahun proses pembangunan berlangsung, persoalan tersebut tidak pernah ditemukan.
Untuk mengatasinya, Pemkot sedang menyusun desain pemasangan sliding door yang diharapkan mampu mengurangi tempias air hujan tanpa mengganggu sirkulasi udara secara signifikan.
Namun Marnabas mengakui langkah itu memiliki konsekuensi terhadap tampilan bangunan.
Menurutnya, selama ini desain Pasar Pagi sengaja dibuat terbuka agar sirkulasi udara tetap baik dan bangunan terlihat lebih lega.
"Masalahnya sekarang kalau dibuat kanopi atau penutup, estetikanya juga jadi pertimbangan. Kita ini dihadapkan pada dua pilihan," katanya.
Ia menjelaskan, ketika bangunan dibuat lebih terbuka, sirkulasi udara menjadi lebih baik.
Namun di sisi lain, risiko tempias hujan juga meningkat.
Sebaliknya, jika seluruh sisi ditutup dengan sistem sliding door, maka tampilan bangunan dan aliran udara akan sedikit berubah.
"Kalau sliding pasti ada bagian yang tertutup. Ketika dibuka pun tetap ada bagian yang menutup. Jadi memang ada pengaruhnya terhadap estetika dan udara yang masuk, meskipun tidak terlalu banyak," ujarnya.
Meski demikian, pemerintah menilai kenyamanan pedagang dan pengunjung tetap menjadi prioritas utama.
Karena itu berbagai penyempurnaan akan dilakukan secara bertahap sambil terus mengevaluasi kebutuhan yang muncul di lapangan.
Marnabas menyebut pekerjaan terbesar yang kemungkinan membutuhkan anggaran tambahan ke depan adalah pembangunan eskalator.
"(Anggaran) yang besar nanti kalau eskalator (jadi dibangun)," ungkapnya.
Sementara untuk pekerjaan perbaikan skala kecil akan dilakukan bertahap sesuai hasil evaluasi tim.
"Tim selalu memantau apa saja kelemahan bangunan ini dan bagaimana caranya supaya pengunjung bisa lebih banyak datang. Karena Pasar Pagi ini ikon Samarinda," tutupnya.
(raf)




