Andi Harun juga menanggapi suara-suara kritis di media sosial yang menyoroti persoalan banjir di Samarinda. Ia mengajak masyarakat untuk tak hanya mengkritik, tapi juga terlibat dalam memberikan solusi.
“Kritik itu penting. Tapi akan lebih bermanfaat kalau dibarengi dengan ide dan masukan teknis. Kami terbuka untuk diskusi,” katanya.
Ia menekankan bahwa menjaga lingkungan adalah tugas bersama. Kerja bakti di sungai, kata dia, bukan semata tugas pemerintah, tapi bagian dari kolaborasi seluruh warga kota.
“Kalau cuma ramai di medsos tapi nggak mau turun tangan, ya percuma. Datang, pungut satu sampah saja, itu sudah bentuk kepedulian,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Endang Liansyah, menyebutkan bahwa volume sampah plastik mulai menurun, namun kini tumpukan sampah kayu dan ranting semakin banyak.
“Hari ini kami kumpulkan sekitar 12 kubik sampah. Edukasi ke masyarakat masih terus kami lakukan sampai November, dengan harapan kesadaran makin meningkat,” jelas Endang.
Aksi ini melibatkan sekitar 200 relawan dan menggunakan 25 perahu milik nelayan lokal sebagai bagian dari upaya bersama menjaga kebersihan Sungai Karang Mumus. (adv)
Tag



