Dengan panjang 690 meter, lebar dan tinggi masing-masing 15 meter, terowongan ini ditargetkan rampung pada 2025.
Nilai proyeknya mencapai Rp395 miliar dan dikerjakan oleh PT PP (Persero) Tbk menggunakan metode NATM (New Austrian Tunneling Method).
Tujuan utama proyek ini adalah mengurai kemacetan di Gunung Manggah dan Jalan Otto Iskandardinata yang menjadi titik padat lalu lintas.
Terowongan itu diharapkan menjadi solusi permanen akses antara wilayah pusat kota dan Palaran.
Meski begitu, viralnya video longsor mengundang sorotan tajam publik.
Sejumlah akun media sosial mempertanyakan kualitas pembangunan dan menyindir proses pengawasan.
Menanggapi hal itu, Andi Harun menilai sebagian informasi di media sosial menyesatkan dan tidak berbasis fakta.
Ia menyebut ada pihak yang sengaja menyebarkan narasi negatif demi kepentingan tertentu.
“Banyak orang menyebar potongan video lalu diberi narasi menyesatkan. Seperti kasus Citraniaga kemarin, polanya sama. Tidak semua warga paham konteks lapangannya,” ujarnya.
Andi menambahkan bahwa ia tak mempermasalahkan kritik terhadap dirinya, tapi menyesalkan jika pembangunan yang bertujuan untuk publik justru dijelekkan.
Tag



