Arus Publik

Alamak! Jembatan Mahulu Ditabrak, Kadis PUPR Kaltim: Ada Luka di Pilar VI

Rabu, 24 Desember 2025 0:10

JEMBATAN MAHULU - Potret gambar Jembatan Mahulu/IST

ARUSBAWAH.CO -  Masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya warga Kota Samarinda yang kerap melintas Jembatan Mahulu, kini harus lebih berhati-hati saat melintasi jalur penghubung vital tersebut.

Pasalnya, jembatan yang diresmikan pada 2009 itu kembali ditabrak kapal tongkang pengangkut batu bara yang melintas di Sungai Mahakam.

Peristiwa itu terjadi pada Selasa, (23/12/2025), sekitar pukul 05.30 pagi, saat aktivitas warga mulai meningkat di jalur penyeberangan sungai.

Sebuah kapal tongkang bermuatan batu bara menabrak salah satu pilar Jembatan Mahulu ketika melintas tepat di bawah bentang utama jembatan.

Meski demikian, Jembatan Mahulu tidak langsung roboh setelah ditabrak, namun dampak benturan memunculkan kekhawatiran serius terhadap kondisi strukturnya.

Insiden itu menambah daftar panjang jembatan di Kota Samarinda yang berulang kali menjadi korban lalu lintas tongkang batu bara.

Jembatan Mahulu kini menjadi korban berikutnya setelah Jembatan Mahakam I kembali ditabrak kapal tongkang batu bara pada 16 Februari 2025 lalu.

Padahal, Jembatan Mahulu memiliki fungsi strategis karena menghubungkan wilayah Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, dengan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang.

Video Viral Tabrakan Tongkang Batu Bara di Jembatan Mahulu

Video yang viral luas di media sosial, terlihat kapal tongkang bernomor M80-1302 ditarik tugboat KD2018 menghantam pilar Jembatan Mahulu.

Tongkang tersebut diduga kehilangan kendali saat melintas, hingga bagian haluannya menghantam pilar jembatan dari arah samping.

Kerusakan parah tampak jelas pada bagian depan kapal tongkang, sementara pilar jembatan menjadi titik benturan utama yang menahan beban keras tabrakan.

Apa yang Kita Ketahui tentang Jembatan Mahulu?

Jembatan Mahakam Ulu, atau lebih dikenal sebagai Jembatan Mahulu, mulai dibangun pada pertengahan tahun 2006 silam.

Pembangunan jembatan Mahulu dimaksudkan untuk mengurangi beban lalu lintas Jembatan Mahakam I yang lebih dulu dibangun.

Proyek pembangunan Jembatan Mahulu menelan anggaran lebih dari Rp265,5 miliar yang sebagian besar bersumber dari APBD Kalimantan Timur.

Dalam proses pembangunannya, proyek ini sempat terbengkalai dan mengalami keterlambatan penyelesaian dari target awal akhir tahun 2007.

Keterlambatan saat itu diperparah oleh insiden tiga kali penabrakan ponton batu bara yang menyebabkan tiang penyangga sempat mengalami pergeseran.

Awalnya, Jembatan Mahulu dirancang sebagai solusi kemacetan saat pelaksanaan PON XVII di Samarinda, Kalimantan Timur.

Namun, jembatan ini tidak dapat digunakan saat PON XVII karena pembangunannya belum selesai sesuai jadwal yang direncanakan.

Setelah melalui uji beban dan kelaikan fungsi oleh pemerintah pusat, jembatan ini akhirnya diresmikan pada 15 Juli 2009.

Peresmian Jembatan Mahulu dilakukan oleh Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, bersamaan dengan proyek infrastruktur lain di Kalimantan Timur.

Spesifikasi Teknis dan Sejarah Penamaan Jembatan Mahulu

Secara teknis, Jembatan Mahulu memiliki bentang tengah sepanjang 200 meter dengan panjang keseluruhan mencapai sekitar 799,8 meter.

Lebar jembatan tercatat 11 meter dengan tinggi sekitar 18 meter dari permukaan air Sungai Mahakam, termasuk bentang lingkar baja khas.

Pada 4 September 2020, jembatan ini resmi diberi nama Abdoel Moeis Hassan melalui keputusan Wali Kota Samarinda.

Abdoel Moeis Hassan dikenal sebagai tokoh pergerakan kebangsaan dan pemimpin diplomasi perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di Kalimantan Timur.

Saat ini, kewenangan pengelolaan Jembatan Mahulu berada di bawah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas PUPR.

 

PUPR Kaltim Temukan Kerusakan Pilar Jembatan Mahulu

Insiden tabrakan terbaru ini menegaskan persoalan utama bukan sekadar kecelakaan, melainkan lemahnya perlindungan infrastruktur vital dari lalu lintas industri berat.

Kepala Dinas PUPR-PERA Kalimantan Timur, Aji Muhammad Fitra Firnanda, mengonfirmasi adanya kerusakan pada pilar penyangga utama jembatan tersebut.

Ia menyebut secara visual kerusakan pada pilar cukup serius dan tidak bisa dianggap sebagai benturan ringan.

“Ada luka di pilar VI jembatan yang menopang bentang utama dan bentang pengikat,” katanya di bawah Jembatan Mahulu.

Selain bekas benturan pada pilar, tim juga menemukan pecahan material struktur yang jatuh dan berserakan di bawah jembatan.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa benturan memiliki dampak struktural yang berpotensi memengaruhi kekuatan jembatan secara keseluruhan.

Belum Dipastikan Aman, Uji Struktur Jembatan Dilakukan

Hingga kini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur belum bisa memastikan apakah jembatan masih aman dilalui kendaraan bermuatan berat.

“Apakah masih aman untuk dilewati beban berat atau tidak? Kami harus memastikan dulu,” ujar Fitra.

Menurutnya, pengecekan visual tidak cukup untuk menentukan kondisi struktur jembatan pasca ditabrak kapal tongkang bermuatan batu bara.

“Apakah ada tidaknya deformasi yakni pergeseran struktur jembatan kita, belum bisa memastikan karena tidak bisa terlihat secara visual,” katanya.

PUPR Kaltim akan menurunkan tim teknis untuk melakukan pengujian menyeluruh menggunakan alat tembak ukur pada seluruh bentang jembatan.

“Pengecekan menggunakan alat tembak dari tiang ke tiang akan dilakukan, apakah ada pergeseran atau tidak,” ucap Fitra.

KSOP Samarinda Tutup Sementara Aktivitas Pelayaran Sungai Mahakam

Sementara itu, Pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda mengeluarkan pemberitahuan kepada nakhoda kapal, operator kapal, serta seluruh perusahaan pelayaran terkait insiden tubrukan di Jembatan Mahakam Ulu.

Dalam pemberitahuan itu disebutkan bahwa akan dilakukan pengecekan struktur Jembatan Mahakam Ulu pasca-tabrakan antara tongkang BG M80 1302 yang ditunda oleh tugboat TB KD2018 dengan tiang jembatan.

Pemeriksaan fisik jembatan dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 24 Desember 2025, mulai pukul 07.30 WITA hingga selesai.

Kegiatan ini akan dilakukan oleh tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) guna memastikan kondisi struktur jembatan pasca-insiden.

Sehubungan dengan pemeriksaan tersebut, KSOP Samarinda meminta seluruh kapal yang melintas di wilayah Sungai Mahakam, khususnya di area sekitar Jembatan Mahakam Ulu, untuk sementara waktu tidak melakukan pelayaran.

Selain itu, seluruh aktivitas pengolongan kapal juga dihentikan sementara hingga proses pemeriksaan selesai.

(wan)

 

Tag

MORE