Ia menekankan bahwa Probebaya bukan hanya soal kucuran anggaran, tetapi juga menyangkut tata kelola, akuntabilitas, dan konsistensi kebijakan. Tanpa penguatan sistem, potensi persoalan serupa bisa terus berulang.
Program Baik Tak Perlu Diganti, Cukup Dibenahi
Di tengah berbagai kekurangan tersebut, Saefuddin menilai Probebaya sudah berada di jalur yang tepat.
Ia mengibaratkan kepemimpinan sebagai “pilot dan co-pilot” yang harus berjalan selaras agar program tetap stabil.
“Kalau sudah berjalan dan masyarakat sudah merasakan manfaatnya, tentu harus kita pikirkan baik-baik. Masa harus cari yang lain lagi?” tegasnya.
Ia mengingatkan, dalam praktik pemerintahan daerah, tidak sedikit program unggulan yang berubah atau bahkan dihentikan saat terjadi pergantian kepala daerah. Kondisi itu kerap menimbulkan disrupsi pembangunan dan membuat proses harus dimulai dari nol.
“Kalau programnya sudah berjalan baik, masyarakat sudah nyaman, kenapa harus diganti? Yang perlu itu diperbaiki, bukan dihilangkan,” ujarnya.
Komitmen Pribadi Jika Diberi Amanah
Saefuddin bahkan secara terbuka menyampaikan sikapnya jika di masa depan mendapat mandat memimpin Samarinda.
Tag



