"Mas saya mau komentar berita yang ini," tulis Dosen Universitas Mulawarman Samarinda, Purwadi Purwoharsojo, Rabu (15/10/2025) pagi.
Belum 30 menit berita Arusbawah.co berjudul "Ada Berau Coal dan PT GAM di Dugaan Solar Murah Dijual Pertamina, Pokja 30: Siapa Main di Belakang?" terbit, Purwadi yang dikenal vokal menyuarakan kepentingan publik, itu sudah langsung memberikan pesan via Whatsapp.
Ia sertakan pula link beritanya. Dan terjadilah wawancara via telepon saat itu juga.
ARUSBAWAH.CO - "Ini bukan hal baru mas. Bahkan seharusnya sudah dicium sejak zaman Pak Awang (Alm). Kelangkaan BBM (jenis solar) ini kan juga salah satu pemicunya. Permainan pengetap, penimbun, ada kongkalikong," ujar Purwadi dengan nada jengah.
Berita soal dugaan solar murah dijual pertamina ke beberapa perusahaan, termasuk perusahaan tambang di Kaltim, menurut Purwadi adalah satu dari beberapa alasan terjadinya antrean solar dan BBM yang mengular di Kaltim.
"Antrean BBM sudah panjang sekali saat itu, seperti ular tangga," jelasnya.
Ia lalu menyebut pernah melakukan survei kecil-kecilan soal ini. Dimulai dari rasa penasaran, mengapa banyak sekali antrean sopir truk yang sering terlihat di beberapa badan jalan.
"Saya pernah survei kecil-kecilan. Saya tanya sopir-sopir yang rela antre tidur di situ (untuk dapat beli BBM solar). Tahu tidak mas, mereka dibayar Rp 1 juta, jadi BBM-nya bukan untuk dia, tapi untuk perusahaan. Kan kurang ajar," katanya.
"Awalnya kan saya kasihan, mereka antre gitu kan. Saya penasaran, dengan beberapa teman dosen, saya buat survei kecil-kecilan. Saya tanya, kayak gitu jawabannya. Kan perusahaan dapat lebih gede dari Rp 1 juta itu (solar subsidi dibeli lagi oleh perusahaan). Mereka antre kan yang subsidi itu solarnya," lanjutnya lagi.
Hal inilah yang menurut Purwadi, sudah ditemukan dua lapis dugaan pelanggaran.
Pertama, untuk solar subsidi, diduga dibeli perusahaan dengan membeli lagi dari para sopir truk yang melakukan antrean.
Kedua, adalah pola lebih besar, yang telah terungkap dalam persidangan , dimana Pertamina diduga menjual solar non subnsidi dengan harga murah ke perusahaan-perusahaan.
Jual solar non subsidi ini, ia sebut bukan lagi Pertamina memberi karpet merah ke perusahaan, tapi bisa saja justru karpet Sepanyol.
Tag



