Arus Publik

Kemarau Mahakam Ulu

Yang Dikeluhkan Warga Mahakam Ulu: Bantuan Sudah Tiba, Tapi Harga Bahan Pokok Masih Tinggi

Sabtu, 9 Agustus 2025 11:56

BANTUAN - Perahu yang mengangkut bantuan logistik untuk warga terdampak kemarau di Mahakam Ulu akhirnya tiba di Tion Ohang, Long Apari, Mahakam Ulu pada Jumat (8/8/2025) sore/ HO

ARUSBAWAH.CO -   Bantuan logistik untuk warga terdampak kemarau di Mahakam Ulu akhirnya tiba di Tion Ohang, Long Apari, Mahakam Ulu pada Jumat (8/8/2025) sore.

Bantuan berupa sembako dan beras ini dibawa menggunakan dua perahu setelah hampir sebulan lebih wilayah tersebut dilanda kemarau ekstrem.

Agustinus Leiju, warga Kampung Naha Buan yang memantau penyaluran, mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut.

Namun, ia menilai kehadirannya terlambat.

Menurutnya, hujan sudah turun, debit sungai membaik, dan momentum tanggap darurat sudah lewat.

Bantuan tanggap darurat datang saat kondisi sudah mulai normal. Saat warga benar-benar kesulitan pertengahan Juli lalu, bantuan belum masuk,” ujarnya saat diwawancara via telepon pada Jumat kemarin. 

Harga Bahan Pokok Masih Melambung

Selama kemarau, warga Mahulu bertahan dengan stok terbatas.

Akses logistik nyaris terputus, toko-toko kosong, dan harga bahan pokok naik dua hingga tiga kali lipat.

“Kami sudah terlanjur beli bahan makanan mahal. Bantuan memang membantu, tapi harga tetap tinggi karena pasokan belum lancar,” tambah Agustinus.

 

Distribusi Belum Merata, 7 Kampung Masih Menunggu

Hingga kini, bantuan baru menjangkau sebagian wilayah.

Kampung-kampung di hulu seperti Long Apari, Naha Silat, dan Naha Tifab masih menunggu. Jalur sungai yang curam dan bergantung cuaca menjadi tantangan besar.

Agustinus berharap pemerintah lebih sigap dan tidak terjebak birokrasi saat krisis.

Ia juga mendorong penggunaan moda transportasi alternatif seperti helikopter jika sungai tak bisa dilalui.

Meski tidak menafikan upaya pemerintah, ia berharap ke depan ada sistem tanggap darurat yang lebih sigap.

Prosedur pengambilan keputusan dinilai terlalu birokratis, padahal dalam kondisi darurat, waktu adalah faktor utama.

“Kami paham medan berat, tapi itu juga bukan hal baru. Harusnya sudah ada antisipasi. Kita tidak bisa terus memakai alasan yang sama tiap tahun,” ujarnya.

Pemerintah diharapkan mengevaluasi pola distribusi bantuan, termasuk mempercepat pemetaan logistik dan penggunaan moda transportasi alternatif seperti helikopter, jika kondisi sungai tidak memungkinkan. (pra)

 

Tag

MORE