ARUSBAWAH.CO - Malam di Desa Manunggal Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Sabtu (13/12/2025), terasa lebih hidup dari biasanya.
Di antara udara lembap dan kursi-kursi plastik yang disusun sederhana, warga berkumpul untuk satu tujuan: menyampaikan suara mereka tentang pembangunan yang selama ini mereka rasakan—atau justru belum sepenuhnya menyentuh kehidupan sehari-hari.
Dalam Dialog Rakyat Masa Sidang III, Anggota DPRD Kalimantan Timur Didik Agung Eko Wahono duduk berhadap-hadapan dengan warga.
Tanpa sekat, tanpa panggung tinggi. Ia mendengarkan langsung keluhan, harapan, hingga kegelisahan masyarakat terkait hasil pembangunan di wilayah mereka.
“Pembangunan itu bukan soal angka di laporan. Yang paling penting adalah apakah masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya,” ujar Didik di hadapan warga, Sabtu malam.
Mendengar dari Dekat, Mengawasi dari Dalam
Dialog yang dimoderatori Picked Nur Ika Reviono ini mengangkat tema Pengawasan Hasil Pembangunan—sebuah isu yang terasa sangat dekat dengan warga Manunggal Jaya.
Mulai dari kondisi infrastruktur desa, layanan dasar, hingga program pemerintah yang dinilai belum berjalan optimal.
Didik menegaskan, fungsi pengawasan DPRD tidak bisa dijalankan hanya dari balik meja rapat. Menurutnya, turun langsung ke desa adalah cara paling jujur untuk mengetahui apakah pembangunan berjalan sesuai tujuan.
“Kalau masyarakat masih mengeluh jalan rusak, drainase bermasalah, atau program tidak tepat sasaran, berarti ada yang perlu dikoreksi. Tugas kami di DPRD adalah memastikan itu ditindaklanjuti,” katanya.
Aspirasi Warga Jadi Catatan Penting
Sejumlah warga menyampaikan aspirasi secara terbuka.
Ada yang berbicara tentang akses jalan pertanian, ada pula yang menyinggung kualitas pembangunan yang dinilai cepat rusak. Didik mencatat satu per satu masukan tersebut sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut di tingkat provinsi.
Ia menekankan bahwa pembangunan bukan hanya soal membangun fisik, tetapi juga soal keberlanjutan dan pengawasan pasca-proyek.
“Jangan sampai bangunan ada, tapi fungsinya tidak berjalan. Itu sebabnya pengawasan hasil pembangunan harus terus dilakukan, dan masyarakat punya peran penting untuk mengawasi bersama,” ucapnya.
Ruang Dialog, Bukan Sekadar Seremoni
Dialog rakyat yang berlangsung hingga malam ini berlangsung hangat dan cair.
Tidak ada jarak antara wakil rakyat dan warga. Bagi Didik, forum semacam ini bukan formalitas masa sidang, melainkan ruang penting untuk membangun kepercayaan.
“Kalau masyarakat mau bicara jujur, kami juga harus siap mendengar dengan jujur. Dari sinilah kebijakan yang lebih tepat bisa lahir,” tuturnya.
Kegiatan yang digelar pukul 20.00 Wita itu ditutup dengan komitmen Didik Agung Eko Wahono untuk membawa aspirasi warga Desa Manunggal Jaya ke pembahasan DPRD Kaltim.
Bagi warga, malam itu bukan sekadar pertemuan—melainkan harapan bahwa suara mereka benar-benar didengar. (adv)




