Arus Publik

TRC PPA Bongkar Kronologi Dugaan Child Grooming Oknum Guru SMK di Samarinda, Empat Korban Sudah Melapor

Jumat, 20 Februari 2026 22:12

ILUSTRASI - Ilustrasi child grooming. (Istimewa)

“Semua pelaku kekerasan terhadap anak pasti melakukan pemantasan dulu kepada korban. Dia melakukan bujuk rayu, memberikan kasih sayang, janji-janji manis, lalu memanfaatkan relasi kuasa sebagai guru,” jelasnya.

Relasi kuasa sebagai pendidik, kata dia, menjadi faktor yang membuat korban tidak berani melapor saat masih bersekolah.

“Karena ini guru, ada relasi kuasa. Itu yang membuat anak-anak tidak berani bicara saat mereka masih jadi siswi,” tambahnya.

 

Modus Dijodohkan dengan Anak

Salah satu modus yang dilakukan adalah dengan dalih akan menjodohkan korban dengan anaknya.

“Awalnya korban akan dijodohkan dengan anaknya. Ceritanya mau dipertemukan dengan anaknya. Tapi ketika korban datang, tidak ada istri atau anaknya, hanya mereka berdua saja,” ungkap Rina.

Setelah situasi tersebut tercipta, terduga pelaku mulai menyatakan perasaan dan mengaku sudah menyukai korban sejak lama.

“Baru setelah itu dia menyatakan bahwa dari kelas 1 sudah suka dengan korban. Di situlah mulai menjerat,” ujarnya.

Salah satu korban tersebut kemudian dinikahi setelah lulus sekolah. Mantan istri yang juga mantan siswi inilah yang pertama kali bersuara dan menjadi penghubung korban lain.

“Yang speak up ini adalah mantan istrinya sendiri, yang dulu dinikahi setelah lulus,” katanya.

Terungkap karena Siswi Hamil

Kasus ini semakin menjadi perhatian setelah kabar tentang seorang siswi kelas akhir yang tengah hamil mulai terdengar. Situasi itu pelan-pelan membuka keberanian korban lain untuk bersuara.

“Kasus ini terungkap pada saat mantan istri mengetahui bahwa ada siswi yang juga masih aktif sekolah kelas 3 dalam kondisi hamil. Itu yang akhirnya membuat para anak ini kompak speak up kasus ini melalui mantan istri si terduga oknum guru,” jelas Rina.

Tag

MORE