Arus Publik

TRC PPA Bongkar Kronologi Dugaan Child Grooming Oknum Guru SMK di Samarinda, Empat Korban Sudah Melapor

Jumat, 20 Februari 2026 22:12

ILUSTRASI - Ilustrasi child grooming. (Istimewa)

ARUSBAWAH.CO -  Kasus dugaan child grooming yang melibatkan seorang oknum guru di SMK Negeri di Samarinda terus berkembang.

Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC-PPA) Kalimantan Timur hingga Jumat (20/2/2026) telah menerima empat laporan dari para korban, yang seluruhnya merupakan alumni sekolah tersebut.

Untuk diketahui, child grooming merupakan praktik manipulasi yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membangun kedekatan dan kepercayaan dengan anak secara bertahap, dengan tujuan mengeksploitasi atau melakukan kekerasan seksual.

Modus ini kerap diawali dengan pemberian perhatian, pujian, atau hadiah, lalu berkembang menjadi komunikasi yang bersifat pribadi dan dirahasiakan, sehingga korban merasa terikat secara emosional dan sulit menyadari atau melaporkan tindakan yang dialaminya.

Ketua TRC-PPA Kaltim, Rina Zainun Asli, mengatakan sejauh ini pihaknya telah menerima laporan dari empat korban dan masih terus menghimpun keterangan serta membuka ruang bagi korban lain yang ingin bersuara.

“Untuk TRC-PPA sendiri sudah ada empat yang melapor. Kami masih dalam proses mengambil informasi. Kalau memang ada yang melapor lagi, pasti akan kami terima supaya bisa ditangani bersama-sama,” ujarnya saat diwawancarai Arusbawah.co, Jumat (20/2/2026).

Terjadi Saat Masih Siswi Aktif

Berdasarkan pendalaman TRC-PPA, rata-rata korban mulai mengalami pendekatan ketika masih duduk di bangku kelas 2.

Pola yang digunakan tidak dilakukan secara terang-terangan, melainkan perlahan dan sistematis.

Rina menjelaskan, terduga pelaku tidak langsung menyatakan perasaan, melainkan membangun kedekatan emosional terlebih dahulu dengan memosisikan diri sebagai figur ayah.

“Rata-rata kejadian itu saat mereka masih kelas 2. Terduga ini tidak langsung menyatakan cinta, tetapi melakukan pendekatan sebagai seorang ayah,” katanya.

Sebagian besar korban, lanjutnya, berasal dari latar belakang keluarga tanpa figur ayah (fatherless). Kondisi itu diduga dimanfaatkan untuk menciptakan ketergantungan emosional.

“Rata-rata korban adalah anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Itu yang kemudian dimanfaatkan,” tegasnya.

Dalam praktik kekerasan terhadap anak, Rina menyebut pola ini dikenal sebagai child grooming.

Pelaku membangun rasa percaya, memberi perhatian intens, janji-janji manis, hingga menciptakan ruang privat dengan korban sebelum masuk ke tahap yang lebih serius.

Tag

MORE