ARUSBAWAH.CO - Peringatan puncak Hari Aksara Internasional (HAI) 2025 berlangsung meriah di Plaza Insan Berprestasi, Kompleks Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta.
Acara yang digelar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal serta Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus ini menghadirkan beragam penampilan seni, budaya, hingga pameran literasi dari berbagai daerah di Indonesia.
Salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian datang dari Tirtonegoro Foundation, yang mempersembahkan musik tradisional sape khas Dayak.
Suasana hangat pun menyelimuti panggung saat dua musisi muda tampil memukau di hadapan peserta dan undangan.
Musik Sape Jadi Simbol Literasi Budaya
Dua pemain muda dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Tirtonegoro, yaitu Rahmad Azazi Rhomantoro dan Alif Fakod, sukses membuat penonton terpukau dengan petikan sape mereka.
Alunan khas alat musik tradisional dari Kalimantan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi simbol penting dalam pelestarian kearifan lokal serta penguatan literasi budaya.
Kemeriahan semakin terasa ketika peserta ikut larut dalam suasana. Banyak yang secara spontan menari bersama, menciptakan momen kebersamaan yang menjadi sorotan selama acara berlangsung.
Kehadiran musik sape membuktikan bahwa literasi tidak hanya sebatas baca-tulis, tetapi juga mencakup pemahaman dan apresiasi terhadap seni serta budaya bangsa.
Semangat Inklusivitas dan Penguatan Literasi
Hari Aksara Internasional 2025 mengusung tema inklusivitas, keberagaman, dan penguatan literasi di berbagai bidang.
Tidak hanya literasi dasar, tetapi juga literasi finansial, numerasi, digital, hingga budaya.
Melalui kegiatan ini, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk terus membangun ekosistem pendidikan nonformal yang memberdayakan masyarakat di seluruh pelosok negeri.
Rangkaian acara HAI 2025 berlangsung sejak 24 hingga 27 September 2025, dengan agenda harian dimulai pukul 08.00 WIB.
Kegiatan meliputi seminar, workshop, pameran karya literasi, hingga pertunjukan seni dari berbagai daerah.
Semua agenda dirancang untuk memperkuat semangat literasi dan menciptakan ruang berbagi pengetahuan bagi masyarakat luas.
Tirtonegoro Foundation Angkat Potensi Generasi Muda
Keterlibatan Tirtonegoro Foundation dalam acara ini menjadi bukti nyata bahwa organisasi literasi lokal dapat memberikan kontribusi besar dalam merayakan keberagaman.
Dengan menghadirkan generasi muda yang piawai memainkan musik tradisional, mereka berhasil menunjukkan bahwa seni dan literasi bisa berjalan beriringan.
Partisipasi aktif komunitas seperti Tirtonegoro Foundation sekaligus membuka peluang bagi anak-anak muda untuk terlibat lebih jauh dalam menjaga warisan budaya bangsa.
Kehadiran mereka di panggung nasional juga menjadi inspirasi bahwa literasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat. (pra)




