Arus Daerah

Konservasi Alam

Tertarik Eksplorasi? Daftar 11 Konservasi Alam hingga Taman Nasional Tersebar di Kalimantan

Yuk, intip kekayaan alam tanah Borneo!

Selasa, 26 Agustus 2025 13:37

KONSERVASI ALAM - Potret kawasan Konservasi Alam hingga Taman Nasional yang tersebar di Kalimantan (Foto: Dok. KWPLH Balikpapan, Mongabay, dan Taman Nasional Kayan Mentarang)

ARUSBAWAH.COKalimantan dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia dengan hutan hujan tropis yang masih lebat.

Di pulau ini, terdapat berbagai taman nasional yang menjadi pusat konservasi alam penting, mulai dari habitat orangutan, bekantan, hingga ribuan spesies flora dan fauna endemik.

Keberadaan taman nasional di Kalimantan bukan hanya melindungi satwa langka, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan menjadi benteng terakhir dari laju deforestasi.

Berikut beragam kawasan konservasi alam hingga taman nasional yang ada di Kalimantan dengan kekayaan hewani dan hayati di dalamnya.

KALIMANTAN TIMUR

KWPLH Beruang Madu Balikpapan

Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Balikpapan, atau Pusat Beruang Madu, berjarak 23 km dari pusat kota dan menjadi rumah bagi tujuh beruang madu yang tak bisa dilepasliarkan.

Dibangun pada 2004 setelah satwa ini ditetapkan sebagai maskot Balikpapan, kawasan seluas 1,3 hektare ini diakui sebagai salah satu terbaik di Asia.

KWPLH Balikpapan telah menarik puluhan ribu pengunjung setiap tahun untuk melihat “penjaga hutan” di habitat alami buatannya.

Hutan Lindung Sungai Wain

Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) seluas ±5.000 hektare ini memadukan keindahan hutan dan sungai, terdiri dari hutan primer serta hutan sekunder yang pulih dari kebakaran dan pembalakan liar.

Bagi warga sekitar, HLSW adalah benteng ekologi sekaligus sumber ekonomi, sosial, dan budaya.

Pemanfaatannya mencakup kawasan, jasa lingkungan, dan hasil hutan bukan kayu seperti gula aren, karet, bambu, buah-buahan, sayuran, madu, rotan, dan hasil perairan.

Sejak 2011, seluas 1.400 hektare dikelola masyarakat untuk budi daya tanaman.

Taman Nasional Kutai

Taman Nasional Kutai (TNK) merupakan satu-satunya taman nasional di Kalimantan Timur dan menjadi representasi penting hutan hujan tropis dataran rendah Borneo.

Kawasan seluas 198.629 hektare ini tidak hanya memikat dengan keindahan alamnya, tetapi juga berfungsi sebagai penyangga air, pusat plasma nutfah, dan habitat orangutan endemik Pongo pygmaeus morio yang kian terancam.

Sejarah kawasan ini bermula dari Hutan Persediaan seluas 2 juta hektare (1934), lalu ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa Kutai (1936), sebelum akhirnya menjadi taman nasional.

KALIMANTAN BARAT

Taman Nasional Betung Kerihun

Taman Nasional Betung Kerihun, dijuluki “surga di perbatasan Malaysia”, membentang seluas 800.000 hektare di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Kawasan ini berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia Timur) serta Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kabupaten Sintang.

Dengan panorama hutan tropis, sungai berliku, deretan gunung, serta flora-fauna endemik, Betung Kerihun menjadi daya tarik utama bagi para petualang.

Perjalanan menuju kawasan ini biasanya dimulai dari Pontianak menuju Putussibau, lalu dilanjutkan dengan menyusuri Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya.

Ditunjuk sebagai area konservasi sejak 1982 dan resmi menjadi taman nasional pada 1992, Betung Kerihun kini menjadi simbol kerja sama konservasi Indonesia–Malaysia.

Bahkan pada 2004, kedua negara mengajukan kawasan ini ke UNESCO sebagai calon situs warisan dunia.

Taman Nasional Danau Sentarum

Taman Nasional Danau Sentarum di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, membentang seluas 130.000 hektare dan dikenal sebagai salah satu kawasan rawa tergenang terunik di dunia.

Selama sepuluh bulan dalam setahun, air Sungai Kapuas membanjiri kawasan ini, membentuk hamparan lahan basah luas dengan ekosistem yang langka.

Kawasan ini menjadi rumah bagi ratusan spesies tumbuhan, termasuk anggrek endemik, serta 265 jenis ikan air tawar, dari Arwana Super Red hingga Tapah raksasa.

Satwa langka, seperti Bekantan, Orangutan, Macan Dahan, hingga burung Rangkong juga hidup di sini.

Selain kekayaan hayati, Danau Sentarum menyimpan pesona budaya, mulai dari rumah betang, ritual adat suku Iban dan Kantuk, hingga tradisi Melayu mengelola ikan dan lebah.

Taman Nasional Gunung Palung

Taman Nasional Gunung Palung di Kayong Utara dan Ketapang, Kalimantan Barat, awalnya ditetapkan sebagai cagar alam 300 km² pada 1937.

Statusnya naik menjadi suaka margasatwa pada 1981, lalu resmi menjadi taman nasional seluas ±90.000 hektare pada 1990.

Setelah diperluas lagi pada 2014, kini arealnya mencapai 108.043 hektare, mencakup enam kecamatan.

Dengan ekosistem paling lengkap di Indonesia, kawasan ini menjadi rumah bagi Gunung Palung (1.116 mdpl), sekitar 2.500 orangutan liar, bekantan, hingga kijang mini yang langka.

Sejak 2003, masyarakat sekitar melalui Orangutan Protection & Monitoring Units (OPMU) ikut aktif menjaga kelestarian hutan, dengan dukungan lembaga konservasi internasional.

KALIMANTAN TENGAH

Taman Nasional Sebangau

Sebelum berstatus taman nasional, Sebangau sempat menjadi wilayah Hak Pengusahaan Hutan (HPH) sejak 1970-an hingga 1990-an.

Setelah itu, marak illegal logging dengan penggalian parit di hutan rawa gambut, yang merusak hidrologi, mengurangi cadangan air, dan memicu kebakaran besar pada 1992, 1994, 1997, dan 2002.

Melihat kerusakan sekaligus potensi alamnya, WWF Sunderland Biorigion mengusulkan Sungai Sebangau dan Katingan masuk RTRW sebagai kawasan perlindungan.

Usulan ini mencakup hutan Sebangau di Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, dan Katingan.

Akhirnya, lewat SK Menteri Kehutanan No. 423/Kpts-II/2004 pada 19 Oktober 2004, Taman Nasional Sebangau resmi ditetapkan dengan luas ±568.700 hektare, mencakup tiga wilayah administratif tersebut.

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) adalah kawasan konservasi di jantung Kalimantan, membentang di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

TNBBBR memiliki peran vital sebagai daerah tangkapan air bagi DAS Melawi (Kalimantan Barat) dan Sungai Katingan (Kalimantan Tengah).

Resmi ditetapkan pada 1992 dengan luas 181.090 hektare, kawasan ini merepresentasikan hutan hujan tropis pegunungan Pegunungan Schwaner.

Kekayaan hayatinya luar biasa, dengan 817 jenis tumbuhan dari 139 famili, termasuk Dipterocarpaceae, anggrek hutan, dan bunga Rafflesia.

Ada pula tumbuhan endemik, seperti Symplocos rayae dan Dillenia beccariana.

Faunanya mencakup beruang madu, kancil, musang wisel, hingga primata langka, seperti orangutan, lutung merah, owa ungko, dan kelempiau.

Taman Nasional Tanjung Puting

Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) berada di semenanjung barat daya Kalimantan Tengah, mencakup 415.040 hektare di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan.

Awalnya ditetapkan sebagai Cagar Alam dan Suaka Margasatwa pada 1937, kawasan ini beberapa kali mengalami perubahan status dan perluasan, termasuk penambahan hutan bekas konsesi dan perairan hingga mencapai luas sekarang.

Pada 1977, UNESCO menetapkannya sebagai Cagar Biosfer, dan sejak 1996 resmi berstatus taman nasional melalui SK Menteri Kehutanan.

Kawasan ini dikelola oleh Balai TN Tanjung Puting di bawah Ditjen KSDAE KLHK, dengan tujuan utama melindungi satwa langka seperti orangutan (Pongo pygmaeus) dan bekantan (Nasalis larvatus).

KALIMANTAN UTARA

Taman Nasional Kayan Mentarang

Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) di Kalimantan Utara merupakan taman nasional terluas di Kalimantan dengan area lebih dari 1,27 juta hektare.

Terletak di Kabupaten Malinau dan Nunukan, kawasan ini berbatasan langsung dengan Sabah dan Sarawak (Malaysia) serta menjadi bagian dari inisiatif Heart of Borneo.

TNKM menyimpan kekayaan hayati luar biasa, 132 jenis anggrek, 150 mamalia, 310 burung, hingga flora-fauna endemik seperti banteng Kalimantan dan Rafflesia.

Sejak 1991, kawasan ini juga memiliki stasiun penelitian hutan tropis yang menarik banyak ilmuwan.

Selain penting secara ekologi, TNKM lekat dengan kehidupan masyarakat adat Dayak dari 11 wilayah adat, menjadikannya taman nasional pertama di Indonesia yang dikelola secara kolaboratif dengan warga lokal.

Nilai sejarahnya pun kuat, mulai dari masa kolonial, Konfrontasi Indonesia–Malaysia, hingga peninggalan budaya kuno.

Meski aksesnya sulit, hanya bisa ditempuh lewat sungai atau pesawat perintis, TNKM menawarkan pengalaman petualangan unik dengan kombinasi alam, budaya, dan sejarah yang memukau.

KALIMANTAN SELATAN

Pegunungan Meratus

Pegunungan Meratus membentang sepanjang 600 km di tenggara Kalimantan, menjadi punggung alam Kalimantan Selatan sekaligus habitat keanekaragaman hayati penting.

Puncaknya, Gunung Halau-Halau (1.901 mdpl), berada di kawasan yang kaya flora endemik, satwa khas Kalimantan, hingga penemuan spesies burung baru.

Selain bernilai ekologi dan geologi purba, Meratus juga menyimpan potensi wisata alam dan sejarah.

Pemerintah berencana mengubah hutan lindung Meratus menjadi Taman Nasional, dengan alasan konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

Rencana ini menuai penolakan dari Masyarakat Adat Dayak Meratus karena lebih dari separuh usulan berada di wilayah adat mereka.

Mereka khawatir akan tergusur dan kehilangan ruang hidup sehingga lahir resolusi bersama menolak kebijakan tersebut.

Pemerintah menyatakan masih mempertimbangkan penolakan itu sebelum menetapkan keputusan final.

Penutup

Itulah beragam kawasan konservasi alam hingga taman nasional yang ada di Kalimantan.

Dengan kekayaan hayati dan hewani di dalamnya, taman nasional di Kalimantan ini bisa menjadi destinasi wisata yang menarik.

Apakah kamu tertarik berkunjung ke taman nasional yang ada di Kalimantan? (apr)

Tag

MORE