Kondisi itu yang kini semakin langka.
Di banyak kawasan hutan Kalimantan Timur, terutama di daerah yang terfragmentasi oleh tambang, perkebunan sawit, dan jalan hauling, suara kuau telah lama hilang.
Di Hutan Lindung Sungai Lesan, populasinya tersisa dalam jumlah yang tak pasti, menjadi satu dari sedikit tempat aman yang tersisa di bentang hulu Sungai Kelay.
CAN bersama masyarakat lokal menginisiasi patroli berbasis warga, atau yang disebut forest guardian.
Mereka berasal dari kampung sekitar, bertugas memantau jejak satwa, membersihkan jalur, dan memasang kamera jebak.
Program ini berjalan tanpa sorotan besar, tapi hasilnya nyata: dokumentasi keanekaragaman hayati yang kembali hidup, termasuk kemunculan burung kuau.
Jejak Budaya dalam Gerak Sayap
Jauh sebelum dunia mengenal istilah konservasi, suku Dayak sudah menempatkan burung kuau sebagai simbol harmoni.
Gerakan lenggok sayapnya menginspirasi tarian adat, sementara pola bulunya yang menyerupai mata dipercaya memiliki kekuatan pelindung. Bulu kuau digunakan dalam upacara pernikahan, perisai perang, dan penanda status sosial.
Namun, masyarakat adat percaya bahwa burung ini tak boleh diburu.
“Bulu terbaik justru ditemukan ketika kuau menari. Beberapa helai akan rontok dan dibiarkan jatuh di lantai hutan. Orang Dayak hanya memungutnya, tidak membunuh,” jelas Paulinus.
Kini filosofi itu terancam lenyap. Hilangnya kuau berarti hilangnya pula sumber inspirasi budaya.
“Jika kuau punah, maka tarian dan simbol yang merepresentasikan harmoni alam juga akan kehilangan maknanya. Ada kekosongan nilai budaya yang sulit tergantikan,” ujarnya.




