“Menurut kami, kenaikan tarif PDAM ini masih dalam batas wajar dan tidak menyusahkan masyarakat," ujar legislator PDIP ini.
Menurut Iswandi, perusahaan daerah itu baru mencatat keuntungan dalam satu hingga dua tahun terakhir setelah sebelumnya mengalami kerugian bertahun-tahun.
"Penyebab kenaikan karena biaya operasional PDAM. PDAM baru untung satu sampai dua tahun belakangan, sebelumnya rugi terus," paparnya.
Namun, DPRD mengingatkan bahwa persoalan internal seperti efisiensi produksi dan kebocoran air tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada pelanggan.
“Makanya kami tegaskan bagaimana efisiensi untuk menekan cost produksi yang tidak perlu dan bisa ditekan," ujarnya.
Iswandi secara khusus menyoroti tingginya tingkat kebocoran air atau non-revenue water (NRW) yang dinilai masih menjadi masalah kronis.
“NRW atau kebocoran itu salah satu yang harus dibenahi. Kalau kebocoran tinggi, itu memakan cost, tidak menghasilkan tapi mengeluarkan biaya produksi," ungkap Ketua DPC PDIP Kota Samarinda ini.
Selain itu, kualitas air juga menjadi persoalan. Saat ini, masih banyak keluhan-keluhan dari masyarakat terkait kondisi air keruh.
“Masa naikkan harga tapi dikasih air kopi. Ini kami tekan terus PDAM meningkatkan kualitas," tegasnya.
Tag



