"Keterlibatan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan saya sebagai advokat muda adat yang berkomitmen membawa perubahan dari akar, membangun masa depan yang adil dan berkelanjutan bagi generasi mendatang," katanya dalam keterangan diterima Arusbawah.co.
Tanah yang Luka
Vanessa dan Iqbal membawa cerita dari tanah yang tak hanya kaya sumber daya, tapi juga luka.
Papua kini perlahan terkikis oleh ekspansi tambang dan perkebunan. Namun dari tanah yang tergerus, suara mereka justru tumbuh paling kuat.
“Sebagai orang asli Papua, saya selalu merasa memiliki ikatan kuat dengan akar budaya saya dan tanggung jawab besar untuk berkontribusi bagi komunitas saya,” ujar Vanessa yang berasal dari Suku Saireri.
Ia juga terus berjejaring bersama orang muda di berbagai wilayah melalui berbagai macam organisasi di Indonesia.
Sebagai pemuda adat, Iqbal menyoroti masih terbatasnya ruang formal yang benar-benar memberikan tempat bagi suara orang muda dalam kebijakan iklim di Indonesia.
“Tantangan terbesar yang saya hadapi sebagai pemuda adat adalah sempitnya ruang partisipasi bagi orang muda dalam pengambilan keputusan iklim. Meski ada mekanisme seperti Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) dan Forum Anak Indonesia, keduanya belum efektif dan perlu dievaluasi agar benar-benar melibatkan suara pemuda dalam kebijakan, termasuk iklim,” ujarnya.
Ia juga percaya bahwa keterlibatannya dalam deklarasi global ini mempunyai makna besar bagi komunitas lokal dan wilayah adatnya.
“Terutama tanah Papua yang termasuk benteng terakhir pertahanan iklim dunia setelah rusaknya sebagian besar Hutan Amazon, dan sebagai benteng terakhir bagi Indonesia melawan laju krisis iklim global setelah rusaknya hutan Sumatera dan Kalimantan,” tambahnya.
Keterlibatan mereka dalam deklarasi ini dimulai dari program pelatihan pemuda oleh Life of Pachamama, yang mempertemukan orang muda dari seluruh dunia dalam diskusi soal demokratisasi ruang iklim.
Deklarasi ini disusun lebih dari 600 pemuda dari berbagai belahan dunia. Hal tersebut merupakan hasil dari 30 lebih sesi pelatihan dan dialog antar generasi yang mendalam, mengangkat isu keterlibatan pemuda, keadilan iklim, hak atas informasi, dan perlindungan pembela lingkungan.
Deklarasi tersebut memuat seruan moral dan agenda konkret dalam peta jalan pemuda menuju COP30.
Lima agenda utama yang mereka bawa adalah: memastikan partisipasi yang bermakna dalam kebijakan lingkungan, memperjuangkan desentralisasi berbasis wilayah, menuntut akuntabilitas korporasi atas kerusakan lingkungan, melindungi pembela lingkungan muda, serta mendorong keterbukaan informasi dan pembentukan observatorium pemuda.




