ARUSBAWAH.CO - Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menyoroti jurang pendapatan antara pekerja dan elite bisnis di daerah kaya sumber daya alam melalui laporan Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026: Republik Oligarki.
Dalam laporan tersebut, CELIOS menyebut pertumbuhan kekayaan kelompok superkaya berlangsung jauh lebih cepat dibanding peningkatan pendapatan buruh di Indonesia.
CELIOS mencatat total kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2026, total kekayaan mereka mencapai Rp4.651 triliun, naik signifikan dibanding tahun 2019 yang berada di angka Rp2.508 triliun.
Sektor Tambang Disebut Jadi Sumber Kekayaan
Dalam laporan tersebut, CELIOS menjelaskan sebagian besar kekayaan kelompok superkaya berasal dari sektor ekstraktif seperti batu bara, sawit, dan nikel.
Pada 2026, proporsi kekayaan dari sektor ekstraktif mencapai 57,8 persen dari total kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia.
Menurut CELIOS, kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana daerah kaya sumber daya alam, termasuk wilayah tambang seperti Kalimantan Timur, menghasilkan keuntungan besar bagi kelompok elite bisnis.
Namun di sisi lain, peningkatan kesejahteraan pekerja dinilai belum bergerak sebanding dengan pertumbuhan keuntungan sektor ekstraktif.
Pendapatan Buruh Dinilai Tertinggal
CELIOS juga membandingkan pertumbuhan kekayaan elite dan kenaikan pendapatan pekerja.
Dalam laporan itu disebutkan kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia bertambah sekitar Rp13,48 miliar per hari.
Sementara rata-rata pendapatan buruh hanya meningkat sekitar Rp2.113 per hari atau sekitar Rp760 ribu per tahun
Laporan tersebut menilai hasil pertumbuhan ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam lebih banyak terkonsentrasi pada segelintir kelompok superkaya.
Sementara pekerja masih menghadapi tekanan ekonomi, kenaikan biaya hidup, dan terbatasnya peningkatan pendapatan.
Dampak Lingkungan Ikut Disorot
Selain persoalan ekonomi, CELIOS juga menyoroti dampak lingkungan dari dominasi sektor ekstraktif.
Dalam laporan itu disebutkan sektor ekonomi berbasis eksploitasi sumber daya alam menghasilkan keuntungan besar bagi elite bisnis, sementara masyarakat ikut menanggung dampak kerusakan lingkungan dan bencana ekologis.
Melalui laporan tersebut, CELIOS mendorong adanya kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada pemerataan kesejahteraan, terutama bagi pekerja dan masyarakat di daerah penghasil sumber daya alam. (naa)




