Strategi Baru 2026: Penanganan Harus Berbasis Kawasan, Bukan Rumah
Disperkim mengganti total strategi mulai 2026: dari fokus unit rumah menjadi fokus kawasan.
Setiap kawasan kumuh akan ditata sebagai satu blok lengkap, mencakup:
- perbaikan rumah
- jalan lingkungan
- drainase
- sanitasi dan biofil
- air bersih
- persampahan
- penerangan jalan
- proteksi kebakaran
- ruang publik
Model ini meniru kota seperti Malang dan Semarang yang sukses menata permukiman tanpa merelokasi warga.
Ronny menegaskan, membenahi satu rumah di tengah puluhan rumah kumuh hanya memberi tampilan “tambal sulam”.
“Kawasan kumuh itu bukan hanya rumah rusak. Tujuh indikatornya harus beres. Selama ini, yang disentuh cuma satu," jelasnya.
Prioritas Tak Lagi dari Laporan Warga: Sistem Pakai Penilaian Teknis
Aplikasi Sirubah tetap digunakan, namun bukan lagi penentu utama prioritas.
Disperkim menggandeng konsultan mantan program Kotaku untuk membuat skema penilaian teknis berdasarkan:
- kepadatan bangunan
- tingkat kerusakan
- kondisi sanitasi dan drainase
- risiko lingkungan
- status kawasan kumuh dalam SK
Dari skor tersebut, akan ditentukan wilayah yang wajib ditangani lebih dulu.
Setelah Ditata, Kelurahan Wajib Jadi Penjaga Kawasan
Jika sebuah kawasan telah ditata lengkap, kelurahan harus mengambil alih perawatan: mengatur jam pembuangan sampah, menjaga kebersihan drainase, memastikan biofil dan septic tank berfungsi, serta mengawasi perilaku warga agar kawasan tidak kembali kumuh.
Tag



