Advertorial

DPRD Samarinda

Rusdi Doviyanto Dorong Desa Budaya Pampang Jadi Magnet Wisata Baru Samarinda, Jangan Bergantung pada Teras Samarinda

Jumat, 26 Juni 2026 13:48

WAWANCARA - Anggota DPRD Samarinda dari fraksi PKB, Rusdi Doviyanto/Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CODPRD Samarinda menilai pengembangan sektor pariwisata tidak boleh hanya bertumpu pada satu destinasi.

Pemerintah Kota diminta mulai memperkuat potensi wisata lain, salah satunya Desa Budaya Pampang, agar mampu menjadi daya tarik baru sekaligus memperpanjang lama kunjungan wisatawan ke Samarinda.

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto, mengatakan kehadiran Teras Samarinda memang memberi warna baru bagi wajah ibu kota Kalimantan Timur.

Namun, menurutnya, kota ini membutuhkan lebih banyak destinasi unggulan agar wisatawan memiliki beragam pilihan saat berkunjung.

"Jangan sampai orang datang ke Samarinda hanya ke Teras Samarinda, lalu selesai. Kita harus punya lebih banyak pilihan destinasi," ujarnya.

DPRD Nilai Desa Budaya Pampang Punya Potensi Besar

Rusdi menilai Desa Budaya Pampang memiliki modal kuat untuk berkembang menjadi ikon wisata budaya di Samarinda.

Kekayaan seni tradisional, adat istiadat, hingga kearifan lokal yang dimiliki kawasan tersebut dinilai mampu menjadi identitas pariwisata kota.

Menurutnya, sejumlah daerah seperti Yogyakarta dan Bali telah membuktikan bahwa kekuatan budaya mampu menjadi magnet utama yang mendatangkan wisatawan secara berkelanjutan.

Karena itu, ia mendorong agar pertunjukan budaya di Desa Budaya Pampang tidak hanya mengandalkan jadwal rutin, tetapi juga dikemas lebih fleksibel sehingga dapat dinikmati wisatawan yang datang di luar hari pertunjukan utama.

Dengan pola tersebut, pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung akan semakin menarik sekaligus meningkatkan potensi kunjungan.

Pengelolaan Desa Budaya Pampang Perlu Diperjelas

Selain penguatan atraksi budaya, Rusdi menilai pemerintah juga perlu memperjelas sistem pengelolaan Desa Budaya Pampang.

Menurutnya, kepastian mengenai model pengelolaan akan memudahkan pemerintah dalam menentukan bentuk dukungan yang paling dibutuhkan, baik dari sisi pembangunan infrastruktur, promosi wisata, maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia di kawasan tersebut.

"Kepastian model pengelolaan ini penting agar pemerintah tahu persis di mana harus menempatkan dukungan, apakah pada penguatan infrastruktur fisik, intervensi promosi, atau pengembangan kapasitas SDM lokal," katanya.

Keterbatasan Anggaran Masih Jadi Tantangan

Rusdi mengakui upaya mengembangkan sektor pariwisata di Samarinda masih menghadapi persoalan klasik, yakni keterbatasan anggaran.

Ia menilai kondisi tersebut membuat program Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) lebih banyak terserap untuk menjalankan kegiatan rutin.

Akibatnya, ruang untuk menghadirkan inovasi maupun mengembangkan destinasi wisata baru menjadi cukup terbatas.

Padahal, menurutnya, pengembangan objek wisata baru berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan sekaligus mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Inovasi dan pembangunan destinasi baru yang berdampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah tidak akan terwujud tanpa dukungan dana yang memadai," tegasnya. (adv)

Tag

MORE